Dua Pompa di Pecakaran Rusak
"Sudah hampir seperut saya. Kemarin-kemarin kami bertahan karena genangan masih sepaha," ungkapnya saat itu.
Kabid Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-Taru) Kabupaten Pekalongan Edhi Setiawan mengatakan, land subsidence (penurunan permukaan tanah) memengaruhi banjir kali ini menjadi yang terparah.
Ia menjelaskan, berdasarkan data dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Kabupaten Pekalongan mengalami land subsidence 3-4 cm per tahun. Namun, kata dia, hasil penelitian terbaru tahun 2018 dari Dr Heri Andreas dari ITB lebih ekstrem. Land subsidence di Kabupaten Pekalongan 8-20 cm per tahun.
"Tentu jika curah hujan ekstrem, tiap tahun banjir makin parah," jelasnya.
Salah satu penyebab land subsidence, kata Edhi, yakni eksploitasi air tanah secara berlebihan. "Bisa juga karena faktor karakter tanah, beban berat (bangunan) di atas tanah, dan sebagainya," kata dia. (had)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
