iklan banner Honda atas

Gas Melon Langka, Warga Kelabakan

Gas Melon Langka, Warga Kelabakan

KAJEN - Gas melon atau gas elpiji subsidi 3 kg akhir-akhir ini kian langka. Oleh karena itu, Pemkab Pekalongan mengusulkan tambahan alokasi gas melon ke Pertamina.

Budi (30), warga Wonopringgo, mengatakan, gas elpiji 3 kg di wilayahnya akhir-akhir ini sulit diperoleh. Untuk harga di tingkat eceran, kata dia, masih tetap di kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 21 ribu. "Untuk harga di eceran ndak naik. Hanya saja pasokannya sering kosong," keluh dia.

Kasubag Sumber Daya Alam, Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Pekalongan, Anjar Ardiansyah, dikonfirmasi kelangkaan gas melon, Senin (23/8/2021), menyatakan, pihaknya sudah melakukan pantauan lapangan terkait informasi kelangkaan gas 3 kg. Salah satunya pantauan di wilayah Wiradesa. Pantauan di antaranya di SPBU yang ada pangkalan elpijinya. "Ada beberapa yang kelangkaan, ada juga yang stoknya masih ada," kata dia.

Pada hari Rabu lalu, pihaknya juga sudah bertemu dengan Hiswana Migas dan Pertamina. Menurutnya, kelangkaan elpiji baru dilaporkan terjadi di wilayah Wiradesa dan Buaran. "Yang ada laporan di Wiradesa dan Buaran. Sebelum itu di Wonopringgo pada awal Agustus, namun sudah kita tindak lanjuti," terang dia.

Dikatakan, dari hasil pertemuan dengan Pertamina dan Hiswana Migas itu kelangkaan gas melon akibat banyaknya hajatan pada bulan Dzulhijah kemarin. Sehingga tingkat pemakaian gas elpiji saat itu meningkat.

Ditandaskan, kelangkaan itu tidak diakibatkan adanya pengurangan pasokan elpiji. Menurutnya, pasokan harian elpiji masih tetap sama. Namun dengan adanya musim hajatan, tingkat pemakaian elpiji meningkat. "Total kuota di Kabupaten Pekalongan 11 juta tabung pertahun. Bulan Dzulhijah banyak hajatan sehingga tingkat serapannya agak tinggi. Perharinya jatah dari Pertamina sebenarnya sudah sama. Itungannya setiap hari. Tidak ada pengurangan alokasi," ujar dia.

Dengan adanya kelangkaan elpiji di beberapa kecamatan, lanjut dia, Pemkab Pekalongan mengajukan usulan penambahan alokasi elpiji 3 kg ke Pertamina. Usulan penambahan rata-rata satu hingga dua LO perkecamatan. "Pemkab pekalongan mengajukan surat penambahan. Kita minta semua kecamatan ditambah. Rata-rata perkecamatan minimal satu LO untuk daerah atas. Lainnya rata-rata dua LO. Total ada 35 LO. Perhitungan dari pertamina LO itu satu truk. Satu truknya 560 tabung," terang dia.

Perhitungan penambahan itu, kata dia, tergantung dari jumlah kepala keluarga. "Kita ada tambahan itu sudah ada perhitungannya dari Pertamina. Kalau Lebaran, Natal itu kan rata-rata permintaan melonjak. Itu sudah ada perhitungannya. Dari perhitungan harian itu dari kuota yang kita punya ada sisa untuk penambahan fakultatif," katanya.

Ia menegaskan, pasokan gas elpiji melon aman. Untuk itu, masyarakat diimbau tidak panik. Disinggung apakah kelangkaan itu juga diakibatkan pemakaian gas melon yang tak tepat sasaran, ia pun tak menampiknya. Masih ada usaha menengah ke atas yang menggunakan gas elpiji 3 kg. Namun pihaknya tidak bisa memberikan sanksi karena regulasinya tidak ada.

"Kadang kita survei pemakaian gas subsidi. Kita survei bersama agen dan Pertamina. Rata-rata yang memakai usaha-usaha seperti batik skala besar. Kita ndak bisa kasih sanksi. Sanksinya paling sanksi moral. Kita kasih tahu saja. Memang belum ada sanksi, dari pusat pun belum ada sanksinya," ungkap dia.

Untuk imbauan pemakaian gas elpiji 3 kg, pemkab sudah pernah membuat surat untuk disebarkan ke agen dan pangkalan-pangkalan elpiji. "Imbauannya yang tidak diperbolehkan untuk masyarakat dengan penghasilan lebih dari Rp 2 juta tidak menggunakan elpiji subsidi. Usaha-usaha menengah ke atas juga tidak," katanya. (had)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: