Wisata Mangrove Terbangun
Ditambahkan, di hutan mangrove Mulyorejo ada tiga jenis mangrove. Yakni bakau (Rhizopora), api api (Avicennia), dan pedada (Sonneratia). "Kita juga sudah mencoba pembibitan jenis lainnya. Untuk pengenalan kan tidak hanya tiga jenis saja tapi semua jenis mangrove bisa ada. Kan banyak macamnya," imbuh dia.
Sekretaris Desa Mulyorejo, Nurul Huda, mengatakan, sekitar 40 hektar sawah dan tambak di desanya tidak produktif akibat terendam banjir rob. Petani dan petambak beralih profesi untuk bertahan hidup. "Untuk sawah sekarang sudah tidak ada yang bisa digarap. Untuk tambak tadinya ada yang menggunakan jaring waring, namun lambat laun airnya tambah tinggi dan airnya lebih payau makanya tidak hasil dan banyak yang ditinggalkan," terang dia.
Menurutnya, pemerintah desa ikut mendorong agar para pemuda di desa itu mengembangkan wisata hutan mangrove di lahan bekas tambak tersebut. "Dari awal kita sudah berinisiatif bersama mengembangkan wisata mangrove. Dulu kan memang kita fokusnya belum di wisata, tapi di konservasi ekosistem. Kita meneruskan jejak pendahulu kita konsen di konservasinya. Akan tetapi melihat potensi ketika kita menanam dan hasilnya bagus, akhirnya dari teman-teman sharing dengan desa apa yang bisa kita buat hingga tercetus pengembangan wisata itu," terang dia.
Dikatakan, taman wisata mangrove memang baru dirintis. Namun pengunjung sudah mulai berdatangan meskipun masih ala kadarnya. "Kita belum memasang tarif masuk. Kita juga masih konsen di penanaman. Ada tamu datang kita ajak main sambil promosi. Kita masih penataan. Bikin warung, bikin tracking, dan sebagainya. Kita targetkan di akhir tahun 2021 sudah bisa dibuka untuk umum," ujar dia.
Diakuinya, tujuan utama adalah konservasi vegetatif dengan merawat dan mengembangkan hutan mangrove yang ada. Di tengah pandemi sektor wisata masih potensial dikembangkan. Oleh karena itu, pemuda desa setempat bersama pemerintah desa terpatik untuk mengembangkan potensi hutan mangrove yang bagus itu menjadi sebuah destinasi wisata alam.
"Ketika ada wisata dampak ekonominya ikut terasa. Untuk sekarang meski belum dibuka saja sudah ada beberapa yang merasakannya. Ada yang jualan es. Jualan bakso di situ.
Alhamdulillah wilayah RT 13 yang berada di paling ujung utara dulunya tidak pernah dikunjungi orang sekarang sudah mulai ramai. Aktivitas ekonomi juga mulai berjalan," katanya.
Ia berharap, Pemkab Pekalongan dan Pemerintah Jawa Tengah bisa ikut mendukung pengembangan wisata mangrove di desa itu. "Untuk sementara ini supporting kita dari Cabang Dinas Kehutanan IV. Kita dibawah binaan mereka," imbuhnya. (had)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
