Pikades, Uang 'Gede' Bukan Segalanya
Suara Masyarakat Tak Bisa 'Dibeli'
Dalam pesta demokrasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) membagi bagikan uang sudah bukan rahasia umum lagi, bahkan akhir akhir ini sudah menjadi tren. Namun menabur uang 'Gede' tidak menjamin sang calon melenggang dengan mudah di kursi yang durebutkan menuju pemerintahan, itu terbukti karena uang bukan segalanya.
Hal itu diakui Ketua Fraksi PAN DPRD Kabupaten Pekalongan, Candra Saputra yang mengamati Pilkades serentak berlangsung, Rabu (23/02/2022) kemarin. Menurutnya pesta demokrasi Pilkades serentak tahap kedua 2019 lalu menjadi pengalaman dirinya.
Kemudian gelaran Pilkades serentak 32 Desa di Kabupaten Pekalongan ternyata hal serupa kembali terjadi, sebab banyak yang membagikan uang 'Gede' calon tidak jadi. Ternyata pilihan masyarakat tidak dapat di goyahkan dengan imbalan uang besar dari calon untuk 'membeli' suara.
"Memang dahulu ada semboyan 'Seng ngei duit Gede yo tak Coblos'. Akantetapi seiring berjalannya waktu, masyarakat sekarang sudah pintar karena sudah memiliki calon pilihan yang dinilai mampu memajukan desanya. Jadi Pilkades ini uang bukan segalanya yang bagi besar malah kalah semua. Ini menunjukan masyarakat mulai sadar akan pentingnya suaranya bukan uang yang 'Gede', " katanya.
Dengan fenomen Pilkades serentak 2022 kali ini diakui kedepan bisa menunjukan bahwa suara masyarakat adalah segalanya yang bisa menentukan masa depan. Untuk itu ia berharap dalam Pilkades kemarin bisa dijadikan cerminan untuk pesta demokrasi kedepan. Bahwa masyarakat benar benar memilih pemimpin bukan memilih uang 'Gede'.
"Ini semua bisa kita jadikan intropeksi diri bahwa pilihan masyarakat tidak bisa 'dibeli' dan tetap pada pilihan. Untuk itu kami berharap bagi Calon yang mendapat amanah agar bisa menjaga amanah masyarakat tidak harus menepuk dada, sedangkan yang belum berhasil masih ada peluang diperiode selanjutnya untuk bisa mengambil simpati masyarakat, "ujar Candra Saputra. (Yon)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
