Masuki Musim Penghujan, Dokter RSUD Batang Ingatkan Orang Tua Waspadai Gejala DBD pada Anak
Dokter Spesialis Anak RSUD Batang, dr. Fajar Yuniftiadi, Sp.A-RSUD Batang-
BATANG – Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti kepada manusia. Penyakit ini masih menjadi ancaman serius bagi anak, terutama saat memasuki musim penghujan.
Dilansir dari media sosial RSUD Batang 3 November 2025, Dokter Spesialis Anak RSUD Batang, dr. Fajar Yuniftiadi, Sp.A, menjelaskan bahwa gejala DBD pada anak perlu dikenali sejak awal agar tidak terlambat mendapatkan penanganan medis.
BACA JUGA:Buka Curhat Gizi, RSUD Batang Edukasi Masyarakat Terkait Diet IF
“Gejala yang paling sering muncul tentu adalah demam tinggi. Selain itu, ada keluhan lain yang bisa dikenali melalui konsep KLMNOPR,” jelas dr. Fajar.
Ia menerangkan, KLMNOPR merangkum gejala khas demam berdarah pada anak, mulai dari kepala terasa nyeri atau pusing, tubuh lemah dan lesu, mual serta muntah, nyeri otot dan sendi, nyeri tulang atau nyeri di belakang mata, perdarahan pada kulit seperti bintik merah atau mimisan, hingga munculnya ruam kemerahan pada kulit.
Menurut dr. Fajar, penanganan awal pada anak dengan dugaan DBD dapat dilakukan dengan istirahat yang cukup serta menjaga hidrasi tubuh dengan memberikan cairan dalam jumlah memadai. Untuk menurunkan demam, orang tua dianjurkan memberikan obat penurun panas yang aman seperti parasetamol, sesuai anjuran tenaga kesehatan.
BACA JUGA:RSUD Batang Kini Miliki Layanan Dokter Spesialis Saraf Bidang Ilmu Faal Olahraga dan Klinis
Ia juga mengingatkan orang tua mengenai masa kritis DBD, yang merupakan fase paling berbahaya dan biasanya terjadi pada hari keempat hingga ketujuh sejak demam muncul.
“Pada masa ini, demam anak justru bisa turun sehingga terlihat membaik. Namun pada saat yang sama, kadar trombosit dalam darah dapat terus menurun, sehingga anak membutuhkan pengawasan dan pemantauan yang ketat, baik oleh tenaga kesehatan maupun keluarga,” ungkapnya.
Dr. Fajar menegaskan bahwa tidak semua anak dengan demam berdarah harus dirawat inap. Keputusan perawatan ditentukan berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium, sehingga konsultasi dengan dokter sangat diperlukan untuk menentukan penanganan yang tepat.
Selain penanganan medis, upaya pencegahan juga menjadi kunci untuk melindungi anak dari DBD. Pencegahan dapat dilakukan melalui gerakan 3M Plus, yakni menjaga kebersihan lingkungan dengan menguras, menutup, dan mengubur tempat penampungan air, serta langkah tambahan seperti menggunakan kelambu saat tidur, lotion anti nyamuk, mengenakan pakaian berlengan panjang berwarna terang, memelihara ikan pemakan jentik, dan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk di rumah.
“Apabila anak mengalami demam disertai gejala-gejala tersebut, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan. Di awal musim penghujan ini, mari bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan anak agar terhindar dari demam berdarah,” pungkas dr. Fajar. (Nov)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
