iklan banner Honda atas

Longsor di Desa Pranten Rusak Belasan Rumah, Bupati Batang Siapkan Relokasi Warga

Longsor di Desa Pranten Rusak Belasan Rumah, Bupati Batang Siapkan Relokasi Warga

Bupati Batang Faiz Kurniawan bersama jajaran terkait melakukan pengecekan upaya pembersihan material longsoran di Desa Pranten.-Dony Widyo -

BATANG — Ratusan penduduk Desa Pranten, Kabupaten BATANG, terpaksa mengungsi setelah tanah longsor menghantam permukiman mereka, Jumat (23/1/2026). Bencana yang dipicu hujan lebat sepanjang hari itu merusak belasan rumah dan memutus akses jalan serta pasokan air bersih.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang, material longsor yang terjadi sekitar pukul 17.30 WIB meratakan dua rumah dan mengakibatkan kerusakan berat pada setidaknya 12 unit bangunan lainnya.

Tidak hanya permukiman, jalur transportasi menuju Dukuh Pranten dari berbagai arah juga terputus akibat tertimbun tanah dan pepohonan yang tumbang.

“Akses jalan terblokir, listrik padam, dan yang paling kritis, pasokan air bersih untuk dua dukuh terputus total,” jelas seorang petugas BPBD setempat, Sabtu (24/1/2026).

BACA JUGA:Tak Hanya Salurkan Bantuan, BPBD Batang Rencanakan Relokasi di Rejosari Pranten

BACA JUGA:Tebing Jembatan Penghubung Desa Wonotunggal - Kemligi Longsor, Warga Terpaksa Memutar 9 Km

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, rasa trauma dan kekhawatiran masih menghantui warga. Dari total 170 kepala keluarga (KK) di Dukuh Rejosari, tercatat 110 KK memilih mengungsi ke wilayah Dieng Kulon.

Sementara itu, 60 KK lainnya masih bertahan di sekitar lokasi bencana dengan kondisi waspada atas ancaman longsor susulan.

Solusi Permanen: Relokasi Warga

Menyikapi kondisi darurat tersebut, Pemerintah Kabupaten Batang mengambil langkah tegas dengan merencanakan relokasi permanen bagi warga terdampak. Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, setelah meninjau langsung lokasi pada Rabu (28/1/2026), menegaskan kawasan terdampak sudah tidak layak huni dan berpotensi tinggi mengalami gerakan tanah kembali.

“Setelah meninjau, kami melihat areal ini tidak layak sebagai hunian dan berpotensi membahayakan jiwa. Satu-satunya jalan adalah relokasi. Ancaman longsor akan tetap ada setiap musim hujan, terlebih dengan ketidakpastian cuaca ekstrem di masa depan,” tegas Bupati Faiz.

Skema penanganan akan dilakukan bertahap. Bantuan logistik akan dipastikan untuk kehidupan warga di pengungsian sebagai solusi jangka pendek. Untuk jangka panjang, pemerintah sedang mengkaji penggunaan lahan bekas Perhutani yang dikelola Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) sebagai lokasi baru. Rencananya, akan dibangun hunian sementara (huntara) sebelum pembangunan rumah permanen bagi sekitar 20-22 keluarga yang paling rentan.

Bupati juga menekankan pentingnya penataan ruang berbasis peta risiko bencana. “Kita sudah memiliki peta kerawanan longsor. Tata ruang seharusnya tidak memberikan izin hunian di kawasan yang berpotensi tinggi seperti ini,” pungkasnya.

Kini, harapan warga Pranten tertumpu pada percepatan proses relokasi, agar mereka dapat meninggalkan bayang-bayang ketakutan setiap kali hujan mengguyur tanah Batang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait