iklan banner Honda atas

21 Tahun Mengabdi Jadi Guru Honorer, Pak Hadi Masih Menanti Keadilan

21 Tahun Mengabdi Jadi Guru Honorer, Pak Hadi Masih Menanti Keadilan

. Hadi Purwanto, seorang guru honorer sekaligus kepala sekolah MI YMI Wonopringgo 02-IST-

KAJEN, RADARPEKALONGAN.CO.ID – Sinar matahari sore menembus jendela ruang kepala sekolah MI YMI Wonopringgo 02 yang sederhana. Hadi Purwanto, seorang guru honorer sekaligus kepala sekolah duduk di kursi kayu tua. Di tangannya, ponsel menampilkan berita tentang pegawai Satuan Pelayan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang akan diangkat menjadi Aperatur Sipil Negara (ASN). Senyumnya merekah, tapi matanya berbeda cerita.

“Alhamdulillah untuk mereka yang mendapatkan kenaikan gaji. Tapi boleh jujur, hati saya sebagai manusia sebenarnya iri,” ujar lelaki yang akrab disapa Pak Hadi ini.

Dua puluh satu tahun. Bukanlah angka yang sederhana bagi Pak Hadi. Itu ada merupakan sebuah rentang waktu ia berdiri di depan kelas, mengajarkan anak-anak membaca, menulis, dan mermimpi. Pengabdian panjang yang dimulai dengan gaji hanya Rp.75 Ribu per bulan.

“Saya sudah menjadi guru di sini sudah 21 tahun, dan gaji pertama saya ketika menjadi guru honorer, itu hanya Rp. 75 Ribu per bulannya,” katanya, sambil mengingat-ingat masa lampaunya pada saat itu.

Dengan penghasilan yang tak sebanding dengan apa yang ia lakukan kepada negara, Pak Hadi harus memutar otak. Setiap pulang mengajar, ia berganti peran menjadi seorang pedagang. Dengan hasil berwirausaha inilah, ia dapat menyambung hidup dengan keluarganya.

Kini, setelah 21 tahun menjadi guru honorer, gaji Pak Hadi memang sudah naik. Tapi angkanya masih jauh dari kata lyak. Sementara itu, berita terbaru dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang akan mengangkat sekitar 32 ribu pekerja SPPG yang mendapatkan kenaikan gaji dan bahkan diangkat menjadi ASN terasa seperti tamparan halus di wajahnya.

“Senang sih mendengar ada yang nasibnya membaik. Tapi kami, guru honorer yang sudah puluhan tahun mengabdi, kok rasanya terlupakan ya? Padahal para pejabat pun dulunya diajar oleh guru,” katanya, dengan senyumnya tetap tegar, meski matanya berkaca-kaca.

Pak Hadi ini bukan tipikal orang yang suka mengeluh. Bahkan dengan beban dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga sekaligus kepala sekolah, ia masih selalu menyemangati guru-guru honorer lainnya yang bernasib serupa. Tapi sore itu, beban 21 tahun pengabdian seakan sudah sangat menumpuk di dadanya.

“Saya ngga minta banyak. Saya Cuma minta keadilan. Kami sebagai guru honorer juga ingin diperlakukan seperti pegawai-pegawai lainnya.” 

Di sekolahnya, Pak Hadi, mengajarkan anak muridnya dengan sepenuh hati, dengan kesabaran penuh, rasa syukur yang selalu menemani. Tapi rasanya penghargaan dalam bentuk angka di slip gaji tetap tak sebanding dengan pengorbanannya. Meski lelahnya seringkali diabaikan, Pak Hadi berharap. Harapan yang sama seperti ribuan guru honorer lainnya di seluruh Indonesia.

“Saya berharap penuh pada pemerintah bisa adil. Para guru honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun ini juga butuh perhatian. Kami butuh gaji yang layak. Bukan karena kami tak mau bersyukur, tapi karena kami punya keluarga yang harus dihidupi,” ujar Pak Hadi dengan rasa sedih.

Sore itu, Pak Hadi kembali ke rumahnya, dan menunggu besok untuk kembali ke sekolah, mengajar dengan senyuman tulus, meski hatinya menyimpan rasa harapan yang belum terjawab.

Dua puluh satu tahun mengabdi. Dan ia masih menanti-menanti keadilan yang sama untuk semua guru, tanpa kecuali. (Tir)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait