iklan banner Honda atas

Imlek 2026, Museum Batik Pekalongan Angkat Batik Peranakan dalam Lunar Festival

Imlek 2026, Museum Batik Pekalongan Angkat Batik Peranakan dalam Lunar Festival

Pamerkan- Momentum Imlek 2026 museum batik Pekalongan tengah memamerkan koleksi bertajuk lunar festival kolaborasi dengan Klenteng Po An Thian Pekalongan.-FOTO-Dwi Fusti Hana Pertiwi

Radarpekalongan.co.id- Dalam momentum Imlek 2026, Museum Batik Pekalongan menghadirkan pameran bertajuk “Lunar Festival 2026” yang mengangkat tema batik peranakan sebagai wujud perjumpaan budaya dalam perayaan Tahun Baru Tionghoa. Pameran yang baru dibuka dan akan berlangsung kurang lebih dua minggu ini menjadi ruang edukasi sekaligus penguatan identitas Pekalongan sebagai Kota Batik yang sarat akulturasi budaya.

Kurator Museum Batik Pekalongan, Ghafi, mengatakan bahwa tema batik peranakan dipilih karena relevan dengan suasana Imlek. “Nama saya Gapi, saya sebagai kurator di Museum Batik. Saat ini sedang ada pameran dengan tema batik peranakan, karena kita hampir mendekati Imlek. Jadi perjumpaan budaya dalam perayaan Imlek itu yang kami angkat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, koleksi yang ditampilkan menunjukkan bahwa batik tidak lahir dalam ruang budaya yang tunggal. Ada pengaruh kuat budaya Tionghoa yang turut membentuk corak dan karakter batik Pekalongan. “Di museum ini ada beberapa koleksi yang mendapat pengaruh Tionghoa. Kami mencoba mempublikasikan kepada masyarakat bahwa batik itu banyak pengaruhnya, salah satunya dari Tionghoa atau Cina,” jelasnya.

BACA JUGA:Polres Pekalongan Sisir Kawasan Bong Cina Selama Libur Imlek 2026

BACA JUGA:Kunjungi Pengungsi Tanah Gerak Tegal, Taj Yasin Minta Pembangunan Huntara Dipercepat

BACA JUGA:Tanggul Sungai Tuntang Jebol, Gubernur Jateng Perintahkan Normalisasi dan Bantuan Darurat

Sedikitnya sembilan kain batik dipamerkan dalam Lunar Festival 2026. Salah satu yang menjadi perhatian adalah batik tokwi yang ditampilkan menggunakan altar sembahyang hasil kolaborasi dengan Klenteng Po An Thian Pekalongan. Altar tersebut dipinjamkan sebagai media display, menghadirkan nuansa autentik sekaligus memperkuat pesan akulturasi budaya dalam balutan estetika batik.

Selain batik tokwi, pengunjung juga dapat melihat ragam batik khas Pekalongan yang dipengaruhi budaya Tionghoa, seperti batik buketan atau yang dikenal sebagai batik encim, batik kelengan, batik latar banji, hingga motif lokcan. Motif-motif tersebut identik dengan warna cerah, ragam hias flora, serta simbol-simbol yang merepresentasikan harapan, keberuntungan, dan harmoni.

Dari sisi respons publik, antusiasme masyarakat terbilang positif. Berdasarkan pantauan media sosial, banyak warganet yang penasaran dan tertarik datang langsung ke museum. “Kalau saya lihat dari sosial media itu lumayan. Banyak yang penasaran. Kemarin juga cukup banyak anak muda yang datang dan membuat konten di sini,” katanya.

Kehadiran generasi muda dinilai menjadi sinyal baik bagi keberlanjutan industri batik dan sektor ekonomi kreatif di Pekalongan. Melalui pameran ini, Museum Batik Pekalongan tidak hanya memperkuat fungsi edukasi budaya, tetapi juga mendorong daya tarik wisata dan potensi pergerakan ekonomi lokal selama momentum Imlek. (Ap3).

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: