Waduh, Kabupaten Batang Krisis Tenaga Dokter Hewan
NOVIA ROCHMAWATI SUNTIK - Dokter di Puskeswan Batang saat melakukan suntik anti rabies ke anabul-Radar Pekalongan/Novia Rochmawati-
BATANG, RADARPEKALONGAN.CO.ID – Di tengah besarnya potensi peternakan, Kabupaten Batang justru menghadapi persoalan krusial yang jarang tersorot: krisis tenaga dokter hewan.
Bayangkan, dari ribuan hingga jutaan populasi ternak yang tersebar di 15 kecamatan, hanya satu dokter hewan aktif yang bertugas. Dialah drh. Ambar Puspitaningrum, yang kini memikul tanggung jawab besar seorang diri.
Sekretaris Dinas Pangan dan Pertanian Batang, Syam Manohara, tak menampik kondisi tersebut jauh dari ideal. Menurutnya, Batang sebelumnya memiliki tiga dokter hewan, namun dua di antaranya kini beralih menjadi pegawai pusat.
“Sekarang tinggal satu dokter hewan yang harus mengawal seluruh wilayah,” ujarnya.
Padahal, beban yang harus ditangani tidaklah ringan. Data mencatat, populasi sapi di Batang mencapai sekitar 17 ribu ekor, kambing 35 ribu, domba 25 ribu, dan unggas mendekati 4 juta ekor. Seluruhnya berada dalam pengawasan satu dokter hewan.
Kondisi ini membuat penanganan kesehatan hewan menjadi penuh tantangan. Meski dibantu 23 hingga 26 paramedis veteriner, peran mereka tetap terbatas dan harus berada di bawah supervisi dokter hewan.
Akibatnya, respons cepat di lapangan kerap terkendala, terutama saat harus mengambil keputusan medis seperti diagnosis dan pemberian obat.
“Paramedis tidak bisa langsung menentukan tindakan tanpa persetujuan dokter,” jelas Syam.
Situasi semakin kompleks ketika terjadi wabah penyakit ternak seperti PMK. Dalam kondisi ini, koordinasi harus dilakukan secara intens, bahkan hingga memanfaatkan teknologi jarak jauh.
“Dokter harus memonitor hampir 24 jam, termasuk lewat video call untuk memastikan pengobatan dan vaksinasi sesuai prosedur,” tambahnya.
Bagi drh. Ambar sendiri, beban kerja tersebut diakui tidak ringan.
“Kalau ditanya kewalahan, ya memang kewalahan,” ujarnya.
Ia mengandalkan komunikasi aktif dengan paramedis di lapangan untuk menangani berbagai kasus darurat yang muncul setiap saat.
Idealnya, setiap kecamatan memiliki satu dokter hewan. Bahkan, fasilitas seperti puskeswan dan rumah potong hewan juga membutuhkan tenaga medis veteriner tetap. Namun realitas di Batang masih jauh dari standar tersebut.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
