Dirgahayu Batang Atas
iklan banner Honda atas

Menteri Wihaji Cek Program MBG, SPPG Diminta Pertahankan Kualitas

Menteri Wihaji Cek Program MBG, SPPG Diminta Pertahankan Kualitas

--

RADARPEKALONGAN.CO.ID - Untuk memastikan program nasional berjalan dengan baik, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, turun langsung ke lapangan di Kabupaten Pemalang. Adapun kali ini fokus dua distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok rentan dan penanganan keluarga berisiko stunting.

Kunjungan ini bukan sekadar formalitas. Wihaji menegaskan dirinya datang membawa mandat langsung dari Presiden untuk memastikan program berjalan sesuai sasaran, terutama untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita—kelompok yang dinilai paling sensitif dalam program MBG.

"Ini bukan program biasa. Kita bicara soal ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Salah sasaran sedikit saja, dampaknya besar. Karena itu saya cek langsung," tegasnya.

Sementara berdasarkan evaluasi di lapangan, distribusi MBG di Pemalang dinilai berjalan cukup baik. Namun, Wihaji tidak ingin lengah. Ia menyoroti pentingnya memastikan kualitas makanan tetap terjaga, bukan sekadar jumlah.

Instruksi dari pusat, kata dia, sudah jelas: kualitas kini menjadi prioritas utama. Kritik dari masyarakat diminta terus disampaikan dan tidak boleh diabaikan.

“Kalau kualitasnya kurang, laporkan. Ini program pelayanan. Harus kita perbaiki terus,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, tidak ada toleransi untuk kelalaian serius. Jika ditemukan kasus seperti makanan tidak layak atau bahkan keracunan, distribusi akan langsung dihentikan sementara.

“Kalau ada masalah, langsung tutup. Diselidiki dulu. Sekarang kita lebih tegas karena ini menyangkut keselamatan,” katanya.

Selain MBG, perhatian besar diarahkan pada penanganan Keluarga Risiko Stunting (KRS). Secara nasional, jumlahnya mencapai sekitar 8,6 juta keluarga.

Kriteria KRS tidak rumit: memiliki balita dengan potensi kekurangan gizi akibat faktor lingkungan seperti akses air bersih, kondisi rumah tidak layak huni, hingga pola makan yang buruk.

Di Pemalang, Wihaji menemukan langsung kondisi tersebut. Salah satu rumah yang dikunjungi bahkan memiliki jarak sangat dekat antara WC dan dapur, serta tidak memenuhi standar kelayakan.

Penanganan dilakukan dengan menggandeng lembaga seperti Baznas dan Rumah Zakat untuk memperbaiki rumah dan fasilitas sanitasi, sekaligus memastikan asupan gizi terpenuhi melalui program MBG.

Pemerintah menargetkan angka stunting turun menjadi 18,8 persen pada 2026, dari posisi 19,8 persen di tahun sebelumnya. Dalam jangka panjang, targetnya ditekan hingga 14 persen pada 2029.

Wihaji menilai angka saat ini masih mengkhawatirkan. Dengan prevalensi hampir 20 persen, artinya dari setiap 10 balita, sekitar dua mengalami stunting.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: