Belajar Karakter Dari Panggung Teater
Kepala SDN Kalisalak Batang, Feronika Kurnia Septiarini, S.Pd.,M.Pd.,M.Pd.-IST-
RADARPEKALONGAN.CO.ID - “Barangkali ancaman terbesar pendidikan Indonesia hari ini bukanlah kecerdasan buatan (AI). Ancaman yang sesungguhnya adalah ketika sekolah kehilangan ruang untuk membentuk manusia.”
Kita sedang memasuki zaman ketika jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik. AI mampu menulis esai, menyelesaikan soal matematika, menerjemahkan bahasa asing, bahkan membuat karya seni. Pengetahuan tidak lagi menjadi barang langka. Namun, ada sesuatu yang tidak bisa diproduksi oleh mesin: keberanian, empati, integritas, disiplin, dan kemampuan bekerja sama.
Ironisnya, justru kemampuan-kemampuan itulah yang mulai tergerus di ruang-ruang kelas. Hasil PISA 2022 menunjukkan hanya sekitar seperempat peserta didik Indonesia yang mencapai kompetensi minimum literasi membaca dan kurang dari seperlima yang mencapai kompetensi minimum matematika. Lebih mengkhawatirkan lagi, capaian tersebut menurun dibandingkan hasil PISA 2018.
Persoalan ini bukan semata-mata soal rendahnya nilai, tetapi menjadi sinyal bahwa proses belajar kita belum sepenuhnya membentuk peserta didik yang tangguh dalam berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan persoalan.
Di sisi lain, Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi masih menemukan berbagai persoalan integritas di lingkungan pendidikan, mulai dari praktik ketidakjujuran akademik hingga lemahnya pembiasaan nilai-nilai karakter. Fakta ini mengingatkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengejar kecerdasan, tetapi juga harus membangun watak.
Karakter Tidak Tumbuh dari Ceramah
Sayangnya, ketika sekolah berbicara tentang peningkatan mutu, yang pertama kali dibahas hampir selalu nilai ujian, peringkat, dan prestasi akademik. Seni sering kali ditempatkan sebagai pelengkap. Bahkan, ketika anggaran terbatas atau jadwal pembelajaran padat, kegiatan seni menjadi yang pertama dikorbankan. Padahal, mungkin justru di sanalah sekolah sedang kehilangan panggung terpentingnya.
Saya belajar tentang hal itu bukan dari buku, melainkan dari pengalaman mendampingi anak-anak sekolah dasar. Dalam sebuah latihan teater di SD Negeri Kalisalak, Kabupaten Batang, saya melihat seorang anak yang hampir tidak pernah berani berbicara di depan kelas. Ketika diminta membaca dialog, suaranya nyaris tidak terdengar. Tatapannya selalu tertunduk. Ia merasa dirinya tidak cukup baik untuk tampil. Tidak ada ceramah motivasi yang kami berikan. Tidak ada hukuman karena ia kurang percaya diri. Yang ada hanyalah latihan, kesempatan, pengulangan, dukungan guru, dan tepuk tangan teman-temannya.
Beberapa bulan kemudian, anak yang sama berdiri di atas panggung di hadapan ratusan penonton. Suaranya lantang. Ekspresinya hidup. Ia memainkan tokohnya dengan penuh keyakinan. Di situlah saya menyadari bahwa pendidikan karakter tidak lahir dari nasihat. Ia lahir dari pengalaman.
Teater adalah Laboratorium Kehidupan
Teater sesungguhnya bukan tentang akting. Di dalamnya anak belajar mengendalikan emosi, menerima kritik, menghargai perbedaan, menyelesaikan konflik, disiplin terhadap waktu, dan bertanggung jawab atas perannya. Tidak ada satu pun nilai itu yang bisa dipelajari secara utuh hanya melalui ceramah.
Inilah yang sering luput dari perhatian kita. Kita terlalu sibuk mengukur apa yang mudah dihitung, tetapi lupa menumbuhkan hal-hal yang justru menentukan masa depan anak. Di era AI, kemampuan menghafal bukan lagi keunggulan manusia. Mesin akan selalu lebih cepat. Yang membedakan manusia adalah kemampuan memahami manusia lain.
Kreativitas, empati, kepemimpinan, komunikasi, dan kolaborasi adalah kompetensi yang tidak bisa digantikan algoritma. Karena itu, sekolah memerlukan lebih banyak ruang yang memungkinkan anak mengalami kehidupan secara langsung. Seni, olahraga, proyek sosial, debat, pramuka, dan berbagai aktivitas kolaboratif bukanlah pelengkap kurikulum. Semua itu adalah laboratorium karakter.
Mengembalikan Panggung Pendidikan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

