Sejauh ini, Jepang secara konsisten masuk sebagai salah satu investor utama di Jawa Tengah dengan total investasi mencapai Rp24,216 triliun sepanjang 2021–2025, menempatkannya di peringkat ketiga investor terbesar.
Lokasi investasi Jepang tersebar di sejumlah daerah strategis seperti Jepara, Batang, Kota Semarang, Pemalang, dan Kendal, dengan dominasi sektor listrik, gas, dan air, tekstil, kendaraan bermotor, mesin, serta elektronik.
Sementara itu, Gubernur Prefektur Kagawa, Ikeda Toyohito, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi tenaga kerja Indonesia, khususnya dari Jawa Tengah, yang saat ini telah mencapai sekitar 4.000 orang dan bekerja di berbagai sektor industri di wilayah Kagawa.
“Mereka bekerja dengan baik dan telah menjadi bagian penting dalam mendukung perekonomian daerah kami,” kata Ikeda.
Ia menjamin tenaga kerja Indonesia yang datang dapat hidup dengan aman dan nyaman selama bekerja di Jepang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan dukungan pendidikan bahasa Jepang sebelum keberangkatan.
“Sebagai pemerintah daerah, kami ingin memastikan tenaga kerja Indonesia dapat beradaptasi dengan baik. Karena itu, kami berusaha memberikan dukungan pendidikan bahasa Jepang sejak sebelum mereka berangkat,” ujarnya.
Ikeda juga menyampaikan harapannya agar jumlah tenaga kerja asal Jawa Tengah yang bekerja di Kagawa dapat terus meningkat ke depan, seiring dengan semakin baiknya kualitas pendidikan dan pelatihan di Jawa Tengah.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Syamsudin Isnaeni mengaku, menyambut baik terbukanya peluang kerja sama dengan Prefektur Kagawa, khususnya dalam mendukung penyerapan tenaga kerja melalui jalur pendidikan.
Ia menegaskan, salah satu kunci utama untuk menangkap peluang kerja di Jepang adalah penguasaan bahasa Jepang bagi lulusan SMA dan SMK yang memiliki minat bekerja di Negeri Sakura tersebut.
“Kami akan mulai menyiapkan pelatihan bahasa Jepang, khususnya di SMK, untuk anak-anak yang memang memiliki cita-cita atau keinginan bekerja di Jepang,” katanya.
Syamsudin menjelaskan, program pelatihan bahasa Jepang tersebut akan dilaksanakan melalui koordinasi dengan pemerintah pusat, seiring dengan adanya program Go Global yang memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk menyelenggarakan pelatihan bahasa di tingkat SMK.
“Program ini juga akan mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Namun sebelum pelatihan, kami lakukan proses identifikasi. Anak harus benar-benar punya keinginan ke Jepang, dan orang tua juga harus mendukung,” pungkasnya.