Selain diterapkan di sekolah, ide ini juga telah dikenalkan dalam forum diskusi guru dan komunitas batik. Meski demikian, ia mengaku inovasi tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum diproduksi secara luas.
Ke depan, ia berharap INOFABA dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan oleh lembaga sekolah lain, sekaligus menjadi serana upaya melestarikan batik Pekalongan sejak usia dini.
“Harapannya anak-anak tidak hanya mengenal batik, tapi juga mencintainya sejak kecil,” ujarnya. (Ap3)