Program Makan Bergizi Gratis di Batang Tuai Polemik, Dugaan Markup hingga Menu Tak Layak

Selasa 10-03-2026,14:18 WIB
Reporter : Dony Widyo
Editor : Dony Widyo

BATANG – Pelaksanaan program unggulan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), di Kabupaten Batang, memicu kontroversi. Program yang dikelola Satuan Pelayanan Pemakanan Gizi (SPPG) ini diterpa isu miring terkait kualitas makanan yang buruk hingga dugaan penggelembungan harga (markup).

Ketua Komite SMP Negeri 5 Batang, Siswanto, mengungkapkan bahwa realita di lapangan sangat jauh dari komitmen yang dijanjikan Badan Gizi Nasional (BGN). Salah satu sorotan utama adalah absennya menu daging sapi yang sebelumnya dijanjikan sebagai standar gizi protein.

"Terkait masalah program MBG ini, menurut saya tidak sesuai dengan apa yang disampaikan Presiden Prabowo dan Gibran," ujar Siswanto, Selasa (10/3/2026).

BACA JUGA:Pengawasan MBG Diperketat, Wabup Batang Tak Ragu Usulkan Penutupan Dapur SPPG yang Nakal

BACA JUGA:Dewan Ingatkan SPPG agar Tak Manfaat Ramadan untuk Keruk Keuntungan Besar dari Menu MBG

Temuan Kondisi Makanan yang Memprihatinkan

Berdasarkan pemantauan harian, Siswanto membeberkan sejumlah temuan di berbagai satuan pendidikan:

 * SMPN 6 Batang: Menu dari SPPG Kasepuhan dilaporkan berisi jeruk busuk, siomay, dan sayur jagung rebus yang dinilai tidak standar.

 * TK Nurul Bahri 2: Ditemukan menu nugget dengan tekstur sangat keras sehingga tidak layak konsumsi dan berakhir di tempat sampah.

 * SD Karangasem 1: Muncul laporan dugaan keracunan yang dialami seorang guru olahraga setelah mengonsumsi roti dari paket MBG.

Dugaan Permainan Anggaran

Tak hanya soal kualitas, Siswanto menyoroti adanya selisih harga yang signifikan pada komponen menu. Ia mencontohkan harga susu kotak kecil yang dianggarkan sebesar Rp4.000 oleh pihak SPPG, padahal harga pasar berkisar Rp2.200 hingga Rp2.500.

Selain itu, paket untuk siswa TK hingga kelas 3 SD senilai Rp8.000 diduga diakali dengan pemberian jajanan seharga Rp1.500 yang dihargai Rp2.500 dalam laporan.

"Ini sudah masuk kategori pembohongan publik. Lebih baik dana ditransfer langsung ke rekening siswa seperti skema PIP agar lebih tepat sasaran," tegasnya.

Penjelasan Koordinator BGN

Merespons keluhan yang viral di media sosial, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Batang, Puji Lestari, memberikan klarifikasi. Menurutnya, banyak unggahan di media sosial yang tidak menampilkan kondisi utuh makanan.

"Kami sering menemukan foto di Facebook yang menunya sudah dimakan sebagian, misalnya buahnya hilang atau pudingnya tidak terfoto," jelas Puji.

Puji mengimbau masyarakat untuk mendokumentasikan makanan saat baru diterima agar terlihat kesesuaian standarnya. Ia juga menegaskan bahwa seluruh laporan menu harian rutin ditembuskan ke pihak Kodim, Polres, hingga Kejaksaan sebagai bentuk transparansi.

Sistem Plotting dan Evaluasi

Kategori :