*Orangtua Tak Miliki Rumah
WONOPRINGGO - Nasib si kembar, Fatiha dan Fathiya, sungguh memilukan. Dua bocah berusia 8 tahun ini bersama adiknya yang bernama Ahmad Munzilin Ashari (5) dan kedua orang tuanya hidup di emperan rumah tua yang sudah lama kosong. Kedua orang tuanya tak miliki rumah.
Berdasarkan pantauan Radar, Jumat (1/10/2021), keluarga ini numpang hidup di emperan rumah tua yang sudah lapuk di RT 05 RW 02 No 46, Desa/Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan. Keluarga Harsono (60) dan istrinya, Asrotun (47), dan tiga anaknya, si kembar Fatiha (8) dan Fathiya (8), pelajar kelas 2 SD, serta si bungsu Ahmad Munzilin Ashari (5), tak miliki rumah. Keluarga ini pun menetap di emperan rumah kuno itu.
Teras rumah di bagian samping kiri dan belakang rumah tua itu dibuat sekat seadanya, baik itu dengan kain maupun gethek. Tak semua bagian teras itu ditutup. Angin masih dengan leluasa berhembus ke dalam teras tersebut. Agar tak kepanasan dan kehujanan, emperan itu ditambah atap asbes.
Di samping rumah bagian depan yang ditutup kain hitam, ada meja kursi seadanya untuk sekadar menerima tamu. Di sisi utaranya, ada tempat untuk dapur. Di depan dapur itu, ada ranjang tempat tidur untuk keluarga ini tidur. Sungguh memilukan keadaannya. Sangat tak layak untuk tempat tinggal.
Harsono menuturkan, keluarganya sudah dua tahun hidup menumpang di emperan rumah tersebut. Ia terpaksa numpang di sana karena tak miliki uang untuk ngontrak rumah. Harsono saat ini kerja serabutan. Penghasilannya pun tak menenu. Untuk bisa makan saja sudah bagus.
"Saya tadinya di Yogyakarta. Saya ingin pulang kampung, karena saya memang asli sini. Anak-anak ndak betah di sana (Yogyakarta)," tutur dia.
Di Pekalongan, Harsono mengaku bekerja sebagai buruh harian lepas. Apa saja dikerjakan untuk bertahan hidup. "Saya ikut bikin taman sama Haji Mahfud tapi kan order ndak tiap hari," katanya.
Dikatakan, di belakang rumah kosong yang ditumpanginya ada sebidang tanah miliknya. Namun tanah itu belum bersertifikat atas nama dirinya. Sehingga saat ia mengajukan bantuan rumah ke pemerintah masih terkendala dokumen kepemilikan tanah tersebut.
"Di belakang itu ada tanah hibah dari saudara untuk saya. Luasnya 330 meter persegi. Belum tak balik nama atas nama saya karena saya ndak punya uang. Boro-boro buat balik nama, untuk bisa makan saja sudah bejo," ungkapnya.
Harsono memiliki tiga orang anak. Dua anak perempuan kembar masih SD, dan si bungsu sekolah TK. "Sebenarnya sedih dengan keadaan ini. Aku mendidik anak untuk bisa sabar. Bapak berusaha, ndak berhenti di sini," ujar dia.
Ia berharap, pemerintah bisa hadir untuk memberikan rumah yang layak. Dengan keadaannya saat ini tak memungkinkannya untuk bisa membangun rumah.
"Saya buruh harian lepas. Kalau pas ada buat taman sehari dapat Rp 70 ribu. Itu juga ndak tiap hari. Istri ndak kerja. Saya mohon kebijakan pemerintah untuk bisa membantu buat rumah di tanah belakang itu," katanya.
**PEMERINTAH SIAP MEMBANTU
Camat Wonopringgo Tuti Haryati, pagi itu juga tampak mengunjungi keluarga Harsono. Ia mengakui ada warganya yang bernama Harsono di RT 5 Desa Wonopringgo belum memiliki rumah.