iklan banner Honda atas

Pergerakan Tanah Kian Parah, Warga Wonosari Mulai Cemas

Pergerakan Tanah Kian Parah, Warga Wonosari Mulai Cemas

KANDANGSERANG - Warga Dukuh Wonosari, Desa Trajumas, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, ketar ketir dengan ancaman tanah gerak di wilayah itu. Pasalnya, dalam lima hari terakhir ini tanah masih terus bergerak. Bahkan dalam sehari pergerakannya bisa mencapai 1 meter hingga 2 meter.

Tanah gerak di wilayah pegunungan ini menghancurkan jalan poros desa. Jalan antar desa yang menghubungkan Desa Trajumas ke Dukuh Wonosari ambles sepanjang 125 meter, dengan kedalaman 1,5 meter. Jalan ini juga akses warga menuju ke Desa Bodas.

Selain itu, 50 hektar lahan pertanian di desa itu juga rusak akibat tanah gerak tersebut. Untuk wilayah pemukiman warga hingga kemarin untuk sementara masih aman.

"Warga Wonosari agak ketakutan. Karena dulu pernah terjadi sampai rumahnya rusak. Ini belum terjadi (rumah rusak, red). Mudah-mudahan tidak terjadi," tutur perangkat Desa Trajumas, Rido, Senin (22/11/2021).

Pasalnya, kata dia, pergerakan tanah di desanya setiap hari masih terus terjadi. Berdasarkan pengamatannya, pergerakan tanah antara 1 meter hingga 2 meter dalam sehari.

"Hingga hari ini masih ada pergerakan terus. Semakin parah. Semakin parah. Terutama di jalan itu. Kelihatan banget perubahannya. Setiap hari pergerakannya sampai 1 meter hingga dua meter," ungkap dia.

Dikatakan, akibat tanah gerak itu jalan poros desa yang menghubungkan Trajumas melalui Dukuh Wonosari ke Bodas rusak parah. Menurutnya, tanah gerak pernah terjadi pada tahun 2012. Kala itu 20-an rumah warga Dukuh Batursari rusak, sehingga puluhan warga setempat direlokasi ke Dukuh Wonosari.

"Batursari itu dulu sebelum ada bencana. Setelah ada relokasi karena relokasinya di 'wono' akhirnya diganti Wonosari. Dulu tahun 2012 ada 20-an rumah rusak dan warga direlokasi. Untuk jumlah kepala keluarga di Wonosari saat ini ada 63 KK," terang Rido.

Ia bersyukur tanah gerak saat ini belum merusak rumah warga. Harapannya hal itu tak terjadi. Namun rasa was-was tetap ada, karena hingga kemarin tanah masih terus bergerak. Menurutnya, tanah gerak skala besar di desanya biasanya terjadi pada periode 8 tahunan sekali. Setiap musim hujan sendiri kerap terjadi tanah gerak, namun skala kecil. "Kita berharap dipasang EWS (Early Warning Sistem) juga. Untuk antisipasi," kata dia.

Sekretaris Desa Trajumas, Jaelani, menerangkan, tanah gerak di desanya sudah terjadi sejak Kamis (18/11/2021). Hingga Senin (22/11/2021) kemarin, tanah masih terus bergerak. "Itu dari hari Kamis sudah mulai ada pergerakan. Kemudian setiap harinya ada perkembangan tambah parah. Dan ini sudah parah banget," terang dia.

Dampaknya, kata dia, lahan pertanian rusak. Selain itu, akses jalan menuju Desa Bodas rusak parah.
"Itu jalan poros desa. Itu rusak parah. Ada warga satu dukuh yakni Wonosari aksesnya lewat situ. Ini sudah tidak bisa dilalui. Itu jalan ambles dalamnya sekitar 1,5 meter," jelas Jaelani.

Untuk rumah penduduk, lanjut dia, belum terdampak. Ada retak-retak kecil tapi di jalan depan rumah.

Untuk antisipasi, warga sudah diminta waspada dan mengamankan diri. "Kalau hujan, yang wilayah atas sudah mulai ngungsi. Mengungsi ke lokasi yang aman. Biasanya di tempat saudaranya," katanya.

Ditambahkan, tanah gerak di desanya sudah pernah terjadi pada tahun 2012. "Itu parah sampai ada relokasi. Nah yang ini kali kedua," imbuh dia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: