iklan banner Honda atas

Petani Kecil Kian Terpuruk

Petani Kecil Kian Terpuruk

**Harga Panen Anjlok

PETUNGKRIYONO - Di tengah lesunya perekonomian akibat pandemi Covid-19, nasib petani dan peternak di daerah kian terpuruk. Harga sejumlah komoditas pertanian anjlok, seperti gabah, cabai, telur, hingga ayam pedaging. Munir, pengepul cabai di Dukuh Mudal, Desa Yosorejo, Kecamatan Petungkriyono, Kamis (2/9/2021), mengatakan, harga cabai di tingkat petani masih rendah. Harga cabai merah keriting saat ini Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu perkilo. Bahkan sebelumnya, harga cabai terjun bebas di angka Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu perkilonya.

Petani cabai dari Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Nurhalimin, mengatakan, harga cabai murah sejak bulan April 2021. Harga cabai dalam lima bulan ini ada di kisaran Rp 7 ribu perkilo untuk jenis cabai merah keriting, dan Rp cabai hijau keriting hanya Rp 5 ribu perkilo.

"Itu harga di Petung. Jika saya jual ke pedagang di Karangkobar (Banjarnegara), Rp 8 ribu (cabai merah) dan Rp 6 ribu untuk hijau," terang dia.

Ia menanam tanaman cabai di lahan seluas hampir 1 hektar. Setiap panen bisa mendapatkan sekitar 5 kuintal cabai. Jika kondisi tanaman bagus, kata dia, bisa delapan hingga 10 kali panen.

"Harga Rp 7 ribu ini belum dipotong ongkos metik dan transport. Untuk bersihnya, ya hanya dapat Rp 4 ribu. Ongkos metik perkilo Rp 2 ribu, ongkos angkut sekitar Rp 1000. Itu yang cabai super," terang dia.

Dengan harga cabai seperti itu, lanjut dia, kerugian yang dialaminya bisa mencapai Rp 45 juta. Dengan luasan lahan sekitar 1 hektar, modal yang dikeluarkan Rp 60 juta. Padahal hasil panen hanya dapat Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. "Ya bangkrut," keluhnya.

Rendahnya harga cabai, kata dia, akibat pandemi Covid-19 sehingga pasar lesu. Selain itu, stok cabai melimpah. "Pada Desember kemarin harga cabai di tingkat petani sampai Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu. Makanya banyak yang tertarik nanam cabai, sehingga stok banyak," ungkap dia.

Selain itu, budidaya tanaman cabai lebih mudah dibandingkan tanaman lainnya seperti tomat. Hal ini memicu petani untuk lebih membudidayakan tanaman cabai. "Untuk perawatan lebih mudah cabai dibandingkan lainnya. Tapi kalau kena virus ya sudah habis. Virus ini biasanya menyerang saat musim kemarau panjang," kata dia.

Ia memperkirakan, harga cabai akan kembali merangkak naik sekitar dua bulan lagi. Pasalnya, daerah Wonosobo dan sekitarnya panenan cabai sudah hampir habis.

Dikatakan, cabai jika harganya tidak mencapai Rp 15 ribu perkilo, maka petani akan merugi. Harga itu masih kotor, belum dikurangi ongkos petik dan transportasi. "Makanya di media sosial viral cabai ndak dipanen sampai busuk atau dibakar, karena ongkos petiknya sudah tinggi. Ndak nutup jika dipanen. Apalagi di kota-kota biaya petiknya bisa lebih mahal," kata dia.

Selain cabai, ia juga menanam kentang. Namun di daerah Petungkriyono bagian bawah tanaman kentang terancam layu. Tanaman kentang bagus di daerah atas seperti Dieng. Untuk harga kentang relatif stabil.

Diakuinya, kondisi petani saat pandemi kian terpuruk. Berbagai persoalan kerap muncul. Seperti gagal panen hingga harga komoditi pertanian anjlok.

"Petani jarang ada yang kaya. Yang senang itu ya PNS. Mau corona 10 tahun, tetap di rumah terus tetap dibayar. Kalau petani ya sudah jatuh tertimpa batu, kalau ketimpa tangga kan enteng," katanya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: