Datang dari Doro Pekalongan, Sindi Jauh-jauh ke Batang untuk Belajar Bahasa Isyarat
BELAJAR - Kegiatan belajar Bahasa Isyarat Heygan Foundation yang digelar di RB Center Batang. -Radar Pekalongan/Novia Rochmawati-
BATANG, RADAR PEKALONGAN.CO.ID – Menjelang waktu berbuka puasa Sabtu 7 Maret 2026, ruang sederhana di RB Center di Jalan Pemuda Kabupaten Batang, tampak ramai oleh anak-anak muda yang duduk berjajar. Namun suasananya berbeda dari kelas pada umumnya. Tidak terdengar percakapan keras. Para peserta justru saling berkomunikasi menggunakan gerakan tangan dan ekspresi wajah.
Mereka sedang belajar Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dalam kegiatan Ngabuburit Kelas Bahasa Isyarat yang diselenggarakan Heygan Foundation.

BELAJAR - Sindi asal Doro Pekalongan saat mengikuti Kegiatan belajar Bahasa Isyarat Heygan Foundation yang digelar di RB Center Batang. -Radar Pekalongan/Novia Rochmawati-
Di antara para peserta, tampak Sindi Kania Dewi (16), siswi kelas XI dari Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan. Remaja ini sengaja datang ke Batang untuk mengikuti kelas tersebut. Ia bahkan ditemani sepupunya, Indah, yang juga ikut belajar bahasa isyarat.
Sindi mengaku sudah lama tertarik mempelajari bahasa isyarat, namun baru kali ini menemukan kesempatan untuk belajar secara langsung.
“Saya sebenarnya sudah tertarik dari dua tahun lalu, tapi belum ada kesempatan belajar. Kemarin lihat informasi kelas ini di Instagram dari sepupu, akhirnya saya langsung daftar,” kata Sindi.
Menurutnya, belajar bahasa isyarat bukan sekadar menambah keterampilan baru. Ia ingin suatu saat bisa berkomunikasi dengan teman-teman tuli.
“Kalau suatu saat punya teman tuna rungu atau tuna wicara, saya ingin bisa ngobrol dengan mereka dan memahami bahasa mereka,” ujarnya.
Ketertarikan Sindi juga muncul setelah sering melihat berbagai konten di media sosial yang memperlihatkan orang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.
“Saya sering lihat di TikTok ada anak sekolah yang ngobrol pakai bahasa isyarat. Dari situ jadi penasaran dan ingin belajar juga,” tambahnya.
Dalam kelas tersebut, para peserta diperkenalkan dengan dasar-dasar Bisindo, mulai dari alfabet, perkenalan diri, nama hari, hingga beberapa kosakata yang digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Koordinator kegiatan dari Heygan Foundation, Hizbul Islam, menjelaskan bahwa kelas bahasa isyarat ini terbuka bagi masyarakat umum, khususnya mereka yang bukan penyandang tuli.
“Kita ingin teman-teman non-tuli juga bisa belajar bahasa isyarat. Jadi ketika bertemu teman tuli di luar, mereka bisa berkomunikasi dengan nyaman,” jelasnya.
Selama Ramadan, kelas ini dikemas dalam konsep ngabuburit agar suasana belajar lebih santai sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
