Respons Krisis Literasi Digital, Unikal Gelar Seminar Nasional SATRIA ke-2
--
PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN – Universitas Pekalongan (Unikal) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia ke-2 yang dikenal dengan sebutan SATRIA. Mengusung tema "Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Era Digital: Dari Ilustrasi Media Hingga Praktik Kelas", seminar ini hadir sebagai bentuk respon nyata terhadap tantangan krisis kemanusiaan dan rendahnya literasi di tengah kelimpahan teknologi digital.
Acara ini dihadiri oleh jajaran rektorat, dosen, peneliti, serta pemakalah dari berbagai wilayah di Indonesia. Antusiasme peserta sangat tinggi, terbukti dengan penuhnya ruang seminar baik oleh peserta yang hadir secara langsung (offline) maupun yang bergabung secara daring (online).
Dekan FKIP Unikal, Susanto, dalam sambutannya menekankan bahwa tema yang diangkat tahun ini sangat krusial. Ia menyoroti kontradiksi antara tingginya pengguna internet di Indonesia dengan tingkat literasi membaca yang masih sangat rendah.
"Ini bukan tema kacang-kacangan ya. Ini tema yang memang menjadi respon kita atas krisis kemanusiaan yang nyata, yang lahir justru dari kelimpahan informasi dan teknologi digital. Kita lihat dari data PANDI 2025, ada 212 juta pengguna internet atau 74,6 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Bisa dipastikan rata-rata satu orang punya satu HP. Akan tetapi, paradoksnya Indonesia menempati peringkat 70 dari 80 negara dunia dalam hal literasi membaca," ujar Susanto di hadapan para peserta.
Seminar nasional ini juga menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya Kepala Balai Media Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Abu Hanifah; Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr. Ganjar Harimansyah; serta dosen sekaligus budayawan dan sineas, Dr. Muhammad Haryanto.
Rektor Unikal, Andi Kushermanto, mengungkapkan rasa bangganya atas terselenggaranya agenda ilmiah tahunan ini. Menurutnya, kemajuan teknologi saat ini—seperti mesin pencari AI dan coding—sebenarnya berakar dari kemajuan bahasa. Namun, ia mengingatkan agar mahasiswa tidak kehilangan sentuhan 'rasa' dan etika akibat terlalu bergantung pada teknologi instant.
"Tantangannya adalah ketika manusia atau mahasiswa hanya mengandalkan teknologi, sehingga mereka sekadar menjajarkan apa yang dihasilkan oleh teknologi. Rasa di dalam sastra itu menjadi tidak ada karena tidak terlibat langsung. Oleh karena itu, di Unikal teknologi bukan untuk dimusuhi atau dilarang. Tetapi bagaimana merangkul teknologi itu untuk berkreasi dan menciptakan hal yang lebih bermanfaat," tutur Andi Kushermanto.
Di sisi lain, Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Dina, menyampaikan laporan mengenai sebaran peserta. Kegiatan ini mendapat sambutan luar biasa dari berbagai perguruan tinggi lintas pulau di Indonesia.
"Alhamdulillah, universitas yang berpartisipasi datang dari seluruh Indonesia. Di antaranya dari Universitas Pekalongan, Universitas Negeri Surabaya, STKIP Muhammadiyah Lumajang, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Teknologi Del, Universitas Islam Riau, dan Universitas Pamulang. Sebaran wilayahnya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Riau, Sumatera Utara, Jawa Barat, hingga Bali," jelas Dina.
Melalui jargon "Bersama SATRIA, Satukan Rasa dan Karya", Unikal berharap forum ilmiah ini dapat terus menjadi wadah kontribusi nyata dalam menjaga kedalaman rasa, empati, dan etika berbahasa pada era digital global saat ini.(mal)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
