Banner Iklan BYD
banner honda Juli 2026

Quo Vadis HMI Cabang Pekalongan: Refleksi Kritis Minimnya Perhatian Cabang terhadap Komisariat

Quo Vadis HMI Cabang Pekalongan: Refleksi Kritis Minimnya Perhatian Cabang terhadap Komisariat

Masih ingatkah HMI Cabang Pekalongan bahwa kekuatan utama organisasi ini berada di tingkat komisariat yang kini seolah dibiarkan berjalan sendiri?-Foto: Gemini-

Oleh: Lubis Ardan

(Pengurus HMI Komisariat Walisongo Pekalongan)

PEKALONGAN – Sebagai kader yang tumbuh dari rahim komisariat, saya adalah saksi hidup dari denyut nadi perkaderan yang sesungguhnya. Bukan pengurus cabang, bukan pula pemegang jabatan struktural mentereng. 

Saya hanyalah satu dari sekian banyak kader yang masih setia menyambangi sekretariat, membersamai agenda diskusi, dan memegang teguh keyakinan bahwa HMI adalah wahana perjuangan yang layak diperjuangkan.

Namun, di balik keyakinan tersebut, terselip sebuah pertanyaan mendasar yang kian mengusik nurani: Masih ingatkah HMI Cabang Pekalongan bahwa kekuatan utama organisasi ini berada di tingkat komisariat yang kini seolah dibiarkan berjalan sendiri?

Secara geografis dan administratif, HMI Cabang Pekalongan menaungi basis massa yang cukup besar. Mulai dari Komisariat Walisongo, Ki Hadjar Dewantara, Al Kindi, FEBI, hingga tiga komisariat di wilayah Pemalang. 

Ini bukan jumlah yang sedikit. Pertanyaannya, dari sekian banyak entitas tersebut, berapa banyakkah yang benar-benar merasa terayomi dan "dipegang" oleh kepengurusan Cabang?

Realitas yang seringkali tampak di permukaan adalah pola interaksi yang bersifat elitis dan temporal. 

Komisariat kerap hanya disapa saat ada agenda seremonial, sesi foto bersama, atau—yang paling parah—ketika Cabang membutuhkan mobilisasi massa untuk acara-acara besar. Selebihnya? Sunyi.

Refleksi Pemikiran Cak Nur: Kembali ke Akar Kaderisasi

Kondisi ini mengingatkan saya pada naskah lama pemikiran Cak Nur (Nurcholish Madjid) yang disampaikan pada Kongres HMI ke-19 di Pekanbaru tahun 1992. Beliau menekankan tentang integritas seorang kader muslim cendekia.

Cak Nur menegaskan, integritas kader bermula dari kesadaran akan makna dan tujuan hidup, yang kemudian diterjemahkan dalam sikap dan tindakan konsisten—bukan sekadar ikut arus atau mengejar posisi struktural semata.

Kaderisasi tidak boleh direduksi hanya sebagai upaya mencetak sumber daya manusia "siap pakai" demi kepentingan organisasi jangka pendek. 

Lebih dari itu, kaderisasi adalah proses penumbuhan kesadaran batin yang panjang. Proses ini tidak bisa diburu-buru dan tidak boleh digantikan hanya dengan pendekatan kekuasaan pragmatis.

Tujuan HMI yang diikrarkan setiap kader saat Maperca sangatlah jelas: mencetak insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur.

Ketiga profil utama ini—akademis (daya pikir/intelektual), pencipta (karakter/inisiatif), dan pengabdi (orientasi sosial)—tumbuh dari proses pembinaan yang telaten, sabar, dan berkesinambungan di level komisariat. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: