KOPER SERU Mengubah Kertas Kosong Menjadi Ruang Kreativitas Murid
--
Oleh: Niken Ari Andayani, S.Pd.SD.
Guru Kelas VI SD Negeri 1 Pageruyung, Kabupaten Kendal
Ada satu momen yang sering dijumpai guru ketika mengajar Seni Rupa. Saat guru meminta murid menggambar, kemudian sebagian murid justru terdiam di depan kertas kosong.
“Bu, saya mau menggambar apa?”
“Bu, boleh meniru gambar yang ada di buku?”
“Bu, saya tidak bisa menggambar.”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut menunjukkan bahwa persoalan pembelajaran Seni Rupa di sekolah dasar. Banyak murid mengalami kesulitan pada tahap awal, yaitu menemukan ide, memilih objek, menyusun komposisi, dan mengembangkan gagasan menjadi sebuah cerita visual.
Kondisi inilah yang ditemukan dalam pembelajaran Seni Rupa di kelas VI SD Negeri 1 Pageruyung. Murid sebenarnya menyukai kegiatan menggambar, tetapi sebagian masih cenderung menggambar secara asal atau meniru contoh yang diberikan guru. Mereka mengalami kesulitan ketika harus menghasilkan karya berdasarkan gagasan sendiri.
Berangkat dari permasalahan tersebut, guru perlu menghadirkan pembelajaran yang tidak sekadar meminta murid menggambar, tetapi memberikan pengalaman bagaimana sebuah gambar dapat lahir dari sebuah gagasan. Maka guru membuat media KOPER SERU (Kotak Peraga Seni Rupa) Edisi Gambar Bercerita.
Di tengah perkembangan teknologi pendidikan, inovasi pembelajaran sering kali identik dengan aplikasi, komputer, kecerdasan buatan, atau perangkat digital. Padahal, inovasi tidak selalu harus mahal dan berteknologi tinggi. KOPER SERU justru tersusun dari benda-benda sederhana yang dapat disentuh dan digunakan secara langsung oleh murid. Media pembelajaran konkret seperti ini dapat menjadi alternatif ketika guru ingin menghadirkan pembelajaran yang aktif tanpa bergantung sepenuhnya pada perangkat digital.
KOPER SERU dirancang dalam bentuk kotak pembelajaran yang berisi berbagai perangkat visual untuk membantu murid menemukan ide dan menyusun gambar bercerita. Di dalamnya terdapat buku petunjuk seni ruapa, puzzle komposisi, roda warna, kartu objek utama, kartu objek pendukung, kartu latar, kartu situasi atau cerita, contoh komposisi, lembar pengembangan ide, serta lembar rancangan gambar. Media dibuat konkret karena anak sekolah dasar membutuhkan pengalaman belajar yang dapat dilihat, disentuh, dipilih, dan dicoba secara langsung.
Dengan KOPER SERU, murid tidak langsung berhadapan dengan kertas kosong. Mereka terlebih dahulu mendapatkan stimulus dan kesempatan untuk bermain dengan berbagai kemungkinan. Misalnya, seorang murid mendapatkan kartu “anak”, “sepeda”, “pohon”, dan “taman”. Murid kemudian dapat menentukan objek mana yang menjadi pusat perhatian, objek mana yang menjadi pendukung, serta bagaimana menempatkan objek tersebut pada latar depan, tengah, dan belakang. Tahapan tersebut membuat kegiatan menggambar menjadi sebuah proses berpikir. Murid mengamati berbagai pilihan objek. Mereka memilih objek sesuai gagasan. Selanjutnya mereka menyusun komposisi, mengembangkan cerita, menuangkannya dalam gambar, kemudian menceritakan hasil karyanya kepada teman. Dengan demikian, gambar menjadi media untuk menyampaikan pengalaman, imajinasi, gagasan, bahkan perasaan anak.
Penggunaan KOPER SERU juga dipadukan dengan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Dalam praktiknya, pembelajaran diarahkan agar berlangsung secara berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Murid tidak hanya mengingat konsep, tetapi mengalami sendiri proses mengamati, mengeksplorasi, mencoba, menciptakan, dan merefleksikan karya.
Penerapan KOPER SERU di kelas VI SD Negeri 1 Pageruyung menunjukkan perubahan positif dalam proses maupun hasil pembelajaran. Berdasarkan data, rata-rata hasil belajar pada ranah kognitif meningkat dari 60 menjadi 81. Sementara itu, rata-rata hasil belajar pada ranah psikomotor meningkat dari 63 menjadi 85 pada tahun pelajaran 2025/2026. Aspek yang berkembang meliputi pemahaman konsep, kemampuan menemukan ide, keterampilan berkarya, kreativitas, komposisi, kemandirian, serta kemampuan mengomunikasikan karya. Artinya, keberhasilan pembelajaran Seni Rupa tidak hanya dapat dilihat dari seberapa indah sebuah gambar, tetapi juga dari proses berpikir dan keberanian anak dalam menciptakan karya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

