Kala Sampah Jadi Jembatan: Saat Pesantren dan Warga Pekalongan Bersatu Lewat Riset UIN Gus Dur
Tim peneliti MoRA The Air Funds UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur Pekalongan) bersama Pusat Pengabdian kepada Masyarakat menggebrak lewat pendekatan partisipatoris, menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mapping Data Kepesantre-LP2M UIN Gus Dur-
PEKALONGAN — Tumpukan sampah rumah tangga dan ancaman banjir tahunan kerap menjadi duri dalam daging bagi warga di sejumlah desa di Kabupaten Pekalongan.
Di tengah kebuntuan tersebut, sebuah secercah harapan lahir dari balik tembok asrama santri.
Tim peneliti MoRA The Air Funds UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan (UIN Gus Dur Pekalongan) bersama Pusat Pengabdian kepada Masyarakat menggebrak lewat pendekatan partisipatoris, menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mapping Data Kepesantrenan dan Potensi Masyarakat Sekitar” di Pondok Pesantren Walindo, Siwalan, Kabupaten Pekalongan.
Forum yang dihelat pada Senin (31/8/2026) ini tidak sekadar duduk berdiskusi mengumpulkan data akademik di atas kertas.
Lebih dari itu, acara ini menjadi ruang perjumpaan hangat antara pengasuh pesantren, aktivis lingkungan, pemerintah desa, warga sekitar, hingga ratusan santri untuk merajut solusi nyata atas persoalan pelik di akar rumput.
Ketika Pesantren Keluar dari Menara Gading
Selama ini, relasi antara pesantren dan masyarakat sekitar kerap terbatas pada kegiatan seremonial keagamaan atau kerja bakti insidental. Padahal, potensi yang disimpan lembaga pendidikan Islam ini sangat masif.
Ketua tim peneliti, Nanang Hasan Susanto, menegaskan bahwa sudah saatnya pesantren memperluas peran historisnya.
Tidak hanya fokus pada pencetak generasi Qur’ani, pesantren harus hadir langsung menyelesaikan persoalan nyata kehidupan sehari-hari masyarakat.
"Pesantren memiliki sumber daya manusia, pengetahuan, jaringan sosial, dan nilai-nilai yang dapat menjadi modal penting. Karena itu, penelitian ini tidak ingin berhenti pada pemetaan data, tetapi berupaya menemukan ruang kolaborasi yang konkret," ujar Nanang.
Hal senada diungkapkan oleh Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat UIN Gus Dur Pekalongan, Syamsul Bakhri.
Menurutnya, pelibatan ribuan santri di lingkungan pesantren adalah energi besar yang siap digerakkan untuk agenda pembangunan berkelanjutan.
"Persoalan sampah dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan dan kesadaran bersama, sekaligus memperkuat hubungan antara pesantren, masyarakat, dan perguruan tinggi," tutur Syamsul.
Sampah: Titik Awal Gerakan Bersama
Dalam diskusi partisipatoris tersebut, isu pengelolaan sampah mengemuka sebagai musuh bersama paling mendesak yang harus segera diselesaikan. Temuan di lapangan mengungkap fakta yang memprihatinkan di tiga wilayah mitra penelitian:
Desa Boyoteluk: Warga masih mengandalkan cara konvensional dengan membakar sampah rumah tangga karena belum tersedianya sistem pengangkutan maupun pengelolaan yang terorganisir.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

