PMII Pekalongan Dorong Kader Tinggalkan Aktivisme Seremonial
GERAKAN - PMII Pekalongan menggelar acara bootcamp guna mendorong kadernya memiliki kedalaman berpikir, keteguhan sikap, sekaligus kesadaran ideologis dalam menjalankan gerakan.-ABDURROHMAN-
PEKALONGAN,RADARPEKALONGAN.CO.ID – Aktivis mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pekalongan dituntut tidak sekadar melahirkan kader yang aktif secara organisatoris. Lebih dari itu, proses kaderisasi harus mampu membentuk pribadi yang memiliki kedalaman berpikir, keteguhan sikap, sekaligus kesadaran ideologis dalam menjalankan gerakan.
Ketua PC PMII Pekalongan, Ahmad Nur Khozin, mengatakan tantangan tersebut menjadi semakin penting di tengah dinamika sosial dan politik yang terus berubah. Menurutnya, aktivitas kader tidak boleh berhenti pada rutinitas rapat, aksi, maupun kegiatan seremonial organisasi.
"Jangan sampai kader hanya aktif secara organisatoris, tetapi tidak memahami mengapa dan untuk apa aktivitas gerakan itu dilakukan. Militansi harus dibangun bersama kesadaran kritis dan pijakan ideologis yang kuat," ujar Oyen, sapaan akrabnya, kemarin.
Dia menilai, aktivisme yang tidak dibarengi pemahaman ideologis berpotensi melahirkan kader yang kuat secara emosional, tetapi rapuh ketika berhadapan dengan tekanan, pragmatisme, maupun berbagai pertanyaan kritis mengenai relevansi gerakan mahasiswa.
Persoalan itu, lanjut dia, tidak terlepas dari pola kaderisasi yang terkadang lebih banyak menekankan aspek administratif dan organisatoris. Sementara proses internalisasi nilai-nilai perjuangan belum selalu berjalan secara optimal.
Padahal, Nilai Dasar Pergerakan (NDP) dan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai manhaj al-fikr semestinya tidak berhenti sebagai materi yang dihafalkan dalam forum kaderisasi. Nilai tersebut harus menjadi kerangka berpikir sekaligus pijakan dalam menentukan sikap dan strategi gerakan.
"Nilai Dasar Pergerakan dan Aswaja harus hadir dalam cara kader membaca persoalan, mengambil sikap, menyusun strategi, sampai menentukan bentuk advokasi. Jadi bukan hanya menjadi materi yang selesai setelah forum berakhir," tegasnya.
Oyen menambahkan, kompleksitas persoalan sosial-politik saat ini juga menuntut kader PMII memiliki kemampuan membaca realitas secara lebih jernih. Kader harus mampu memahami hubungan antara berbagai kepentingan yang berkembang sebelum menentukan posisi dan langkah gerakan.
Tanpa kemampuan tersebut, aktivisme mahasiswa dinilai rentan berubah menjadi gerakan reaktif. Kader hanya mengikuti isu yang sedang ramai tanpa memahami akar persoalan dan dampaknya terhadap masyarakat.
Karena itu, PC PMII Pekalongan menempatkan materi Dekonstruksi Kesadaran dan Paradigma Gerakan sebagai salah satu fondasi penting dalam forum Bootcamp Movement. Materi tersebut diarahkan untuk membongkar cara pandang lama mengenai aktivisme yang cenderung stagnan dan seremonial.
Setelah proses pembongkaran tersebut, kader diarahkan membangun kembali paradigma gerakan yang lebih kritis, reflektif, kontekstual, serta berorientasi pada perubahan nyata, khususnya dalam merespons berbagai persoalan di tingkat daerah. "Yang ingin kita bangun adalah kader yang tidak sekadar bereaksi terhadap isu, tetapi mampu memahami persoalan secara mendalam, membaca konteks daerah, kemudian menentukan strategi perubahan yang tepat," kata Ahmad.
Pendekatan tersebut juga mengambil inspirasi dari kerangka konsientisasi, yakni proses penyadaran yang mendorong seseorang bergerak dari kesadaran naif menuju kesadaran kritis dan transformatif.
Menurut Ahmad, fondasi berpikir tersebut penting sebelum kader memasuki materi yang lebih teknis. Mulai dari analisis sosial, pemahaman terhadap kebijakan daerah, penyusunan rekomendasi kebijakan, hingga advokasi gerakan melalui ruang digital.
Sebab, keterampilan teknis tanpa arah ideologis dikhawatirkan hanya menghasilkan kemampuan yang mudah terseret kepentingan pragmatis.
"Secanggih apa pun kemampuan teknis kader, kalau tidak memiliki kesadaran tentang arah dan tujuan gerakan, semuanya bisa kehilangan makna. Karena itu, dimensi spiritual dan ideologis harus berjalan beriringan dengan kemampuan teknis-praktis," jelasnya.
Melalui forum tersebut, PMII Pekalongan berharap kader memiliki perspektif baru dalam memaknai posisi dan perannya sebagai penggerak perubahan. Kader juga diharapkan lebih siap secara mental dan ideologis untuk memasuki tahapan kaderisasi yang lebih teknis dan aplikatif.
Pada akhirnya, paradigma tersebut diarahkan untuk memperkuat kontribusi PMII terhadap persoalan konkret di daerah. Gerakan mahasiswa tidak hanya hadir sebagai kelompok yang bersuara, tetapi mampu menawarkan analisis, rekomendasi, sekaligus mengawal perubahan.
Semangat itu menjadi bagian dari gagasan besar "Membicarakan Daerah, Membangun Indonesia", dengan menjadikan persoalan lokal sebagai ruang pembelajaran sekaligus pijakan untuk menghadirkan kontribusi yang lebih luas bagi bangsa. (dur)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

