ITSNU Pekalongan Perkuat Jejaring Global Melalui Seminar Internasional dan Stadium General
--
RADARPEKALONGAN.CO.ID - Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU) Pekalongan memperkuat langkah menuju perguruan tinggi yang adaptif, inovatif, dan berjejaring global melalui melalui Seminar Internasional dan Stadium General bertema “ICT and AI Integration: Developing the Skills of Future Workforce in the 21st Century Digital Era".
Kegiatan tersebut menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Saifuddin bin Haji Mohtaram, Dean of the Faculty of Computing and Multimedia (FCOM), Universiti Poly-Tech Malaysia (UPTM) sebagai narasumber utama.
Forum internasional tidak hanya memberikan perspektif mengenai perkembangan Information and Communication Technology (ICT) dan Artificial Intelligence (AI), tetapi juga menjadi momentum strategis bagi ITSNU Pekalongan untuk memperluas jejaring akademik internasional dan mendorong kolaborasi lintas perguruan tinggi.
Perkembangan AI, analisis data, otomasi, cloud computing, dan teknologi digital telah mengubah kebutuhan dunia kerja. Literasi digital, kemampuan memanfaatkan kecerdasan buatan, pengolahan informasi dan data, kreativitas, pemecahan masalah, komunikasi, kolaborasi lintas disiplin, serta kemampuan beradaptasi menjadi kompetensi penting tenaga kerja masa depan.
Seminar ini sekaligus memberikan pemahaman kepada mahasiswa bahwa teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kapasitas manusia. Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, kemampuan berpikir kritis, etika, kreativitas, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan tetap menjadi kompetensi yang menentukan.
Bagi ITSNU Pekalongan, transformasi tersebut menuntut perguruan tinggi tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang menghubungkan pendidikan, penelitian, inovasi, teknologi, kebutuhan industri, dan persoalan nyata masyarakat.
Rektor ITSNU Pekalongan, Dr Ali Imron menempatkan kegiatan sebagai bagian dari pengembangan hubungan kelembagaan internasional yang berkelanjutan. Kerja sama, menurut arah pengembangan institusi, tidak boleh berhenti pada seremoni atau penandatanganan dokumen, tetapi harus diterjemahkan menjadi program yang memberi manfaat nyata bagi mahasiswa, dosen, institusi, dan masyarakat.
Komitmen tersebut diperkuat melalui penandatanganan dokumen kerja sama lintas perguruan tinggi sebagai fondasi pengembangan agenda akademik dan kelembagaan pada masa mendatang. Dokumen kerja sama diposisikan bukan sebagai akhir proses, melainkan pintu masuk menuju kolaborasi yang konkret, terukur, dan berkelanjutan.
"Kami mendorong pengembangan kerja sama pada sejumlah bidang strategis, yaitu student exchange, kolaborasi riset, international community engagement, visiting lecturer, dan pengembangan peluang program beasiswa," katanya.
Melalui student exchange, mahasiswa diharapkan memperoleh pengalaman akademik internasional sekaligus mengenal budaya, sistem pendidikan, teknologi, dan perspektif masyarakat negara lain. Sebaliknya, ITSNU Pekalongan juga dapat menjadi ruang akademik bagi mahasiswa perguruan tinggi mitra untuk belajar dan mengenal karakter serta budaya masyarakat Pekalongan. Program ini diharapkan membangun wawasan global, komunikasi antarbudaya, kemandirian, dan jejaring mahasiswa.
Pada bidang penelitian, kerja sama diarahkan pada joint research atau penelitian kolaboratif internasional. Perkembangan ICT, Artificial Intelligence, transformasi digital, pendidikan, ekonomi digital, teknologi terapan, dan berbagai persoalan sosial membuka ruang penelitian bersama yang luas. Kolaborasi diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga inovasi, model, teknologi, dan rekomendasi yang dapat menjawab persoalan masyarakat.
Hubungan internasional juga diarahkan pada nternational community engagement. Dosen dan mahasiswa dari berbagai institusi dapat berkolaborasi dalam pemberdayaan masyarakat, literasi digital, pemanfaatan teknologi, pengembangan UMKM, pendidikan, serta program lain yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, internasionalisasi tidak hanya berlangsung di ruang akademik, tetapi menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Program visiting lecturer juga menjadi bagian penting dari agenda lanjutan. Kehadiran akademisi internasional dapat memberikan perspektif baru dalam pembelajaran, sementara dosen ITSNU Pekalongan juga berpeluang terlibat sebagai visiting lecturer di perguruan tinggi mitra. Pertukaran akademisi dapat dikembangkan menjadi kuliah bersama, pengembangan materi pembelajaran, joint supervision, seminar ilmiah, dan penelitian kolaboratif.
Aspek lain yang didorong adalah perluasan akses terhadap program beasiswa dan mobilitas pendidikan internasional. Melalui jejaring antarperguruan tinggi, mahasiswa maupun dosen diharapkan memperoleh akses lebih luas terhadap pertukaran akademik, studi lanjut, short course, dan program peningkatan kompetensi di luar negeri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

