Banner Iklan BYD
banner honda terbaru 2026

Pesanan Makram Jepang Buka Peluang Usaha bagi Perajin Pekalongan

Pesanan Makram Jepang Buka Peluang Usaha bagi Perajin Pekalongan

Mengikat- Fenty tengah membuat makram dengan pola pesanan dari Jepang di rumah produksi yang berlokasi di jl Sumatera Gang jeruk, Kelurahan Sapura Kebulen, Kota Pekalongan. -FOTO-Dwi Fusti Hana Pertiwi

Radarpekalongan.co.id – Pesanan makram dari Jepang tidak hanya menjadi peluang bagi perajin untuk memperluas pasar, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk mendapatkan penghasilan dari keterampilan tangan.

Peluang tersebut dijalankan Fenty Haryani (48), pemilik Fenty Handmade, yang mengerjakan produksi makram dari rumahnya di Jalan Sumatra Gang Jeruk Nomor 48, Kota Pekalongan. Dari tempat tersebut, Fenty bersama sejumlah perajin lain di Pekalongan mengerjakan pesanan sesuai pola dan standar yang ditentukan pihak Jepang.

Makram sendiri merupakan seni mengikat tali dengan berbagai pola hingga menghasilkan bentuk tertentu. Di Indonesia, kerajinan ini banyak dikenal sebagai produk dekorasi, seperti hiasan dinding maupun berbagai aksesori interior. Namun, untuk pesanan Jepang, makram dikembangkan menjadi produk yang lebih dekat dengan kebutuhan fesyen dan aksesoris.

Pesanan tersebut bermula ketika Fenty bersama empat perajin lainnya dipertemukan Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM dengan pihak Batik Tobal. Pihak Batik Tobal sebelumnya telah bekerja sama dengan mitra dari Jepang yang membutuhkan tenaga perajin di Indonesia.

Kelima perajin tersebut kemudian menjadi tenaga utama yang mempelajari standar pengerjaan sebelum mengembangkan jaringan pengerjaan dengan melibatkan perajin lain.

BACA JUGA:Kades Karangasem Ditangkap Polisi, Diduga Gadaikan Motor Sewaan

BACA JUGA:Jalan Sehat Gathering dan Bazar UMKM Semarakkan Milad ke-112 Al-Irsyad Pekalongan

BACA JUGA:4 Bedak Tabur untuk Kulit Berminyak yang Non-Comedogenic, Bikin Wajah Auto Mulus

Menurut Fenty, proses pengerjaan makram untuk pasar Jepang memiliki ketentuan yang lebih detail. Tidak hanya bahan dan ukuran, pola serta jenis ikatan juga harus mengikuti contoh yang diberikan. “Kalau dulu yang penting diikat dan tidak lepas. Kalau dari Jepang harus sesuai gambar dan pola,” katanya saat ditemui, (22/9/2026).

Untuk memahami standar tersebut, Ia dan perajin lainnya mengikuti pelatihan selama tiga hari dengan guru yang didatangkan langsung dari Jepang. Dari proses tersebut, mereka juga mendapatkan keterampilan membaca pola makram yang sebelumnya belum banyak dikuasai.

Pesanan pertama yang telah dikerjakan dan dikirim mencapai sekitar 300 produk. Hasil tersebut masih dalam tahap evaluasi, terutama berkaitan dengan bentuk, ukuran dan kesesuaian dengan standar yang ditetapkan. Meski demikian, proses pengerjaan tetap berjalan selama bahan yang dikirim masih tersedia.

Menariknya, bahan utama juga disediakan dari pihak Jepang. Saat ini perajin masih menggunakan tali rami, sementara ke depan bahan yang digunakan akan berupa serat pelepah pisang yang disebut sebagai akar baka. Bahan tersebut merupakan material lokal yang dipersiapkan untuk memenuhi standar produk.

BACA JUGA:Hadiri Rakortek Jabanusa, Plt Bupati Pekalongan Sukirman Tegaskan Komitmen Turunkan Stunting

BACA JUGA:Bawa Senjata Tajam, Gerombolan Gangster Diamankan Warga Kemasan

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: