MII Pringlangu Program Takhasus Makin Lengkap, Jadi Rujukan Orang Tua di Pekalongan
TARI - Siswi MII Pringlangu Program Takhasus menyuguhkan aksi tarian sholawat dalam acara tasyakuran ke-6 MII setempat.-ABDURROHMAN-
RADARPEKALONGAN.CO.ID – Enam tahun perjalanan MII Pringlangu Program Takhasus di Kota Pekalongan terus menunjukkan perkembangan. Bukan hanya dari sisi jumlah peserta didik, tetapi juga kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan yang semakin memadai.
Kini, ruang-ruang kelas di MII Pringlangu Program Takhasus telah dilengkapi dengan pendingin ruangan atau AC, layar pembelajaran, hingga aula yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan pendidikan maupun aktivitas madrasah. Kelengkapan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya pengelola menghadirkan lingkungan belajar yang nyaman sekaligus mendukung proses pembelajaran bagi para siswa.
Ketua Yayasan Katijoyo yang menaungi MII Pringlangu, Drs H Abdul Kholik, mengatakan perkembangan madrasah tersebut tidak lepas dari dukungan masyarakat dan para dermawan.
Menurutnya, sejak pembangunan MII Pringlangu Program Takhasus dilakukan, keberadaan madrasah tersebut semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat. Hal itu salah satunya terlihat dari jumlah peserta didik yang bersekolah di MII Pringlangu Program Takhasus. “Sekarang MII Pringlangu menjadi salah satu rujukan orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Saat ini ada sekitar 700 anak yang bersekolah di MII Pringlangu,” ujar Abdul Kholik.
Kepercayaan masyarakat tersebut, lanjut dia, menjadi motivasi bagi yayasan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan. Kenyamanan siswa dan kelengkapan fasilitas menjadi bagian yang terus diperhatikan.
Momentum enam tahun berdirinya MII Pringlangu Program Takhasus pun diperingati dengan kegiatan tasyakuran. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk merefleksikan perjalanan madrasah sekaligus memperkuat komitmen dalam mengembangkan pendidikan.
Menariknya, pembangunan keseluruhan fasilitas MII Pringlangu Program Takhasus telah menelan anggaran sekitar Rp5 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp4,8 miliar berasal dari swadaya masyarakat dan sumbangan para dermawan. Sedangkan dukungan dari pemerintah tercatat sekitar Rp200 juta.
“Sebagian besar pembangunan ini berasal dari swadaya masyarakat dan bantuan para dermawan. Dari total sekitar Rp5 miliar, kurang lebih Rp4,8 miliar berasal dari masyarakat dan dermawan, sedangkan bantuan pemerintah sekitar Rp200 juta,” jelasnya.
Pendidikan MII Pringlangu Didorong Adaptif terhadap Teknologi
Sementara itu, Pengawas Pendidikan Madrasah, H Ahmadun, menyoroti pentingnya dukungan terhadap lembaga pendidikan agar mampu berkembang menghadapi perubahan zaman.
Ia berharap lembaga pendidikan madrasah tidak hanya fokus pada aspek akademik dan keagamaan, tetapi juga mampu mengintegrasikan sains dan teknologi dalam proses pendidikan.
Menurutnya, perkembangan teknologi yang begitu cepat menuntut lembaga pendidikan untuk terus beradaptasi. “Pendidikan di MII Indonesia seharusnya bisa mengintegrasikan sains dan teknologi. Dengan begitu, anak-anak kita bisa menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang,” kata Ahmadun.
Ia juga menyinggung masih terbatasnya kontribusi pemerintah terhadap sejumlah lembaga pendidikan. Menurutnya, dukungan yang lebih kuat diperlukan agar lembaga pendidikan dapat memberikan layanan secara maksimal kepada masyarakat.
MII Pringlangu Didorong Perkuat Pendidikan Aswaja
Apresiasi juga disampaikan Ketua PCNU, Dr H Abdullah Mahrus. Ia mengaku bangga melihat perkembangan MII Pringlangu Program Takhasus yang dalam waktu enam tahun mampu berkembang dan menghadirkan fasilitas pendidikan yang semakin lengkap.
Menurut Mahrus, keberadaan MII Pringlangu Program Takhasus bahkan tidak kalah dengan sejumlah sekolah favorit yang ada di Kota Pekalongan. “Kami salut dan bangga dengan MII Program Takhasus Pringlangu. Perkembangannya luar biasa dan tidak kalah dengan sekolah-sekolah favorit yang ada di Pekalongan,” ungkap Mahrus.
Memasuki usia enam tahun, ia menilai MII Pringlangu Program Takhasus berada pada fase penting untuk semakin mematangkan sistem pendidikan dan kelembagaannya.
Usia tersebut, menurutnya, merupakan momentum untuk memperkuat pendidikan Ahlussunah wal Jamaah, sekaligus memastikan madrasah mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Mahrus juga mendorong adanya sinergi yang semakin kuat antara MII Pringlangu dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Agama dan Pemerintah Kota Pekalongan. “Di usia enam tahun ini merupakan masa jatuh bangun. Karena itu, saatnya pendidikan Ahlussunah wal Jamaah semakin dimatangkan, tetapi tetap adaptif terhadap perkembangan pengetahuan dan teknologi,” tuturnya.
Ia menambahkan, perkembangan MII Pringlangu tidak hanya lahir dari pembangunan fisik maupun kelengkapan fasilitas. Ada peran besar para guru yang selama ini mendampingi siswa serta doa dari berbagai pihak. “MII Pringlangu bisa berkembang dan maju juga karena doa-doa para guru. Mudah-mudahan ke depan siswa MII Pringlangu mampu meraih prestasi hingga tingkat nasional maupun internasional,” harapnya.
Dengan fasilitas yang semakin lengkap, dukungan masyarakat, serta penguatan pendidikan berbasis keagamaan dan teknologi, perjalanan enam tahun MII Pringlangu Program Takhasus menjadi pijakan untuk terus berkembang dan memberikan layanan pendidikan berkualitas bagi masyarakat Pekalongan. (dur)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

