Mancing Bareng Jadi Ajang Jaga Sungai, DPRD Kendal Soroti Ancaman Setrum Ikan
Mancing Bareng Jadi Ajang Jaga Sungai, DPRD Kendal Soroti Ancaman Setrum Ikan-Dok. Kegiatan lomba mancing bersama yang digelar di Kali Aji, Desa Penjalin, Kecamatan Brangsong, Minggu (25/10/2026)-
KENDAL, RADARPEKALONGAN.CO.ID - Sungai yang kotor, dangkal, dan tercemar limbah bukan hanya menghilangkan habitat ikan, tetapi juga mengancam keseimbangan ekosistem serta sumber kehidupan masyarakat. Karena itu, kegiatan mancing bersama diharapkan tidak sekadar menjadi ajang menyalurkan hobi, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Anggota Komisi B DPRD Kendal, M Arif Abidin, mengapresiasi kegiatan lomba mancing bersama yang digelar di Kali Aji, Desa Penjalin, Kecamatan Brangsong, Minggu (25/10/2026). Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai positif karena mempertemukan masyarakat sekaligus mengajak mereka menjaga kebersihan sungai.
“Sebagai anggota dewan, saya sangat mengapresiasi kegiatan mancing bersama ini. Selain menjadi sarana menyalurkan hobi, kegiatan ini juga mengajak masyarakat melestarikan sungai. Kalau sungai bersih, ikan bisa hidup dan berkembang biak sehingga masyarakat bisa terus menikmati kegiatan memancing,” ujarnya.
Arif mengingatkan, pelestarian sungai harus berjalan beriringan dengan perlindungan kawasan hutan dan sumber mata air. Penebangan hutan serta eksploitasi lahan secara berlebihan berpotensi merusak lingkungan dan mengancam ketersediaan air bagi masyarakat.
“Jangan sampai hutan ditebang dan lahan dieksploitasi secara berlebihan, terutama di kawasan yang seharusnya dilindungi. Kalau pohon-pohon habis, kita bisa kehilangan sumber mata air. Ini tentu sangat disayangkan,” tegasnya.
Dia juga mengimbau masyarakat Brangsong dan sekitarnya agar tidak membuang sampah ke sungai. Sampah dan limbah yang menumpuk dapat menyebabkan pencemaran serta pendangkalan sungai. Jika dibiarkan, kondisi tersebut bisa merusak habitat ikan dan menghilangkan keseimbangan ekosistem perairan.
Selain kebersihan sungai, Arif menyoroti praktik penangkapan ikan menggunakan setrum. Menurutnya, cara tersebut dapat membunuh ikan tanpa memandang ukuran dan mengancam keberlangsungan populasi ikan, termasuk ikan-ikan yang belum berkembang biak.
“Menangkap ikan dengan setrum itu merusak. Bukan hanya ikan besar yang mati, tetapi juga ikan-ikan kecil dan bisa mengancam keberlangsungan perkembangbiakannya. Karena itu, perlu kepedulian bersama dan perhatian pemerintah daerah terhadap aturan yang melarang praktik tersebut,” ungkapnya.
Dia berharap kegiatan mancing bersama dapat mempererat silaturahmi sekaligus menumbuhkan kesadaran menjaga lingkungan. Ikan hasil tangkapan pun bisa dibawa pulang untuk dikonsumsi keluarga.
Arif menutup pesannya dengan mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sumber air menghilang sebelum menyadari pentingnya menjaga alam.
“Kalau ada sumur di ladang, kita bisa menumpang mandi. Tapi kalau sumur-sumur kita sudah hilang, kita mau mencari ke mana lagi? Karena itu, mari bersama-sama menjaga sungai, hutan, dan sumber mata air demi anak cucu kita,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Bonang menyampaikan bahwa panitia menyiapkan sejumlah hadiah untuk peserta. Hadiah utama berupa sepeda listrik diberikan kepada peserta yang berhasil mendapatkan ikan dengan bobot paling berat. Juara kedua memperoleh seekor kambing, sedangkan juara ketiga mendapatkan kulkas.
Melalui kegiatan tersebut, panitia berharap masyarakat tidak hanya mendapatkan hiburan dan hadiah, tetapi juga semakin peduli terhadap kebersihan sungai serta kelestarian lingkungan. (fur)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

