Tanah Bengkok, Fondasi Kemandirian Warukidul
Calon Kepala Desa Warukidul, Nurasan.-Ahmad Djunaidi -
*Calon Kepala Desa Warukidul
WARUKIDUL — Pemilihan Kepala Desa seringkali diwarnai hiruk-pikuk dan pengeluaran yang besar. Di Desa Warukidul, Kecamatan Wiradesa, narasi itu berbeda. Nurasan hadir bukan dengan tawaran janji manis, melainkan gagasan membangun dari akar rumput.
Lahir di Pekalongan, 1 September 1972, Nurasan adalah putra dari pasangan Bapak Sofyan (Alm.) dan Ibu Kaltum (Alm.). Warga Desa Warukidul, RT 08 RW 02, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, ia maju didampingi istrinya, Ngatmiatun.
Saat ini, Nurasan menjabat sebagai Kasi Trantib sekaligus Sekretaris Kelurahan Bener. Pengalaman bertahun-tahun di pemerintahan mengajarkannya satu hal: pembangunan yang berakar kuat dimulai dari kepercayaan kepada warga di tingkat paling bawah.
Gagasan Tertulis dalam Surat Pernyataan
Ide dan gagasan tersebut telah dituangkan hitam di atas putih dalam sebuah surat pernyataan pada 1 September 2026, dan disaksikan oleh tokoh-tokoh masyarakat.
Langkah ini menjadi bukti keseriusan Nurasan bahwa tawarannya bukan sekadar janji kampanye semata.
Satu Iring untuk Satu RT
Inti gagasan Nurasan terletak pada pengelolaan 20 iring tanah bengkok milik desa. Rencananya: 13 iring diserahkan langsung ke pengelolaan masing-masing dari 13 RT — satu iring untuk satu wilayah.
Tiga iring akan dikelola secara pribadi oleh Nurasan sendiri, agar ia dapat secara langsung memantau kondisi persawahan dan mendengarkan kebutuhan para petani di lapangan.
Sisanya, empat iring, diperuntukkan bagi kegiatan umum desa, dikelola melalui lembaga atau yayasan, untuk mendukung kegiatan keagamaan seperti TPQ dan pemeliharaan mushola.
"Satu iring sawah (kurang lebih 1.500 meter persegi), hasilnya sekitar tiga juta rupiah per tahun. Bukan angka yang fantastis, namun jika dikelola langsung di tingkat RT, nilainya jauh lebih besar daripada sekadar uang," ujar Nurasan.
Kemandirian Berawal dari Kepercayaan
Bagi Nurasan, tiga juta rupiah per iring per tahun adalah titik awal kemandirian. Setiap RT akan memiliki kas sendiri yang dikelola bersama warganya — untuk mendukung pembangunan di wilayahnya saat dibutuhkan, membantu warga yang belum terjangkau program pusat.
Selain itu juga menopang kegiatan sosial dan keagamaan tanpa membebani iuran warga, hingga menjadi permodalan awal usaha warga melalui lembaga simpan pinjam berbasis masyarakat.
"Kuncinya satu: kepercayaan. Jika kita percayakan warga mengelola sumber daya di lingkungannya sendiri, mereka akan tumbuh mandiri. Desa yang mandiri tidak dibangun dari atas saja, melainkan dari setiap RT yang kuat," tegasnya.
Pilkades yang Menyatukan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

