Harga Minyak Goreng Tak Kunjung Turun

Kamis 06-01-2022,15:00 WIB

**Pemda Gelar Operasi Pasar

KAJEN - Harga minyak goreng hingga kemarin tak kunjung turun. Harga minyak goreng kemasan masih tinggi. Yakni di kisaran Rp 19 ribu hingga Rp 22 ribu perkilonya. Padahal, paska libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 harga produk yang sempat menggila saat ini berangsur turun. Harga telur ayam ras, misalnya, yang sempat naik di angka Rp 32 ribu/kg saat ini turun menjadi Rp 26.500 perkilo di tingkat eceran. Untuk membantu masyarakat dan menstabilkan harga minyak goreng, pemerintah gencar gelar operasi pasar minyak goreng di daerah.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pekalongan bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng gelar operasi pasar minyak goreng di halaman kantor Disperindag Kabupaten Pekalongan, Rabu (5/1/2022). Antrean warga mengular untuk mendapatkab kupon pembelian minyak goreng. Dalam itungan jam, minyak goreng ludes. Warga pun ada yang kecele karena datang kesiangan, sehingga minyak gorengnya sudah habis.

Yanti (36), warga Desa Gejlik, Kecamatan Kajen, mengatakan, dengan adanya operasi pasar itu sangat membantunya. Pasalnya, dengan uang Rp 28 ribu bisa dapat dua liter minyak goreng. Di pasaran, kata dia, harganya rata-rata sudah Rp 20 ribu/liter.

"Kalau bisa kayak gini terus. Minimal sekali seminggu.

Minyak goreng naik sudah agak lama, dan sampai sekarang belum juga turun," katanya.

Kepala Disperindag Kabupaten Pekalongan, Hurip Budi Riantini, menyatakan, operasi pasar kemarin merupakan tahap pertama. Kuota minyak goreng yang disiapkan 2112 liter.

"Tadinya cuma 1200 liter. Pembelian maksimal 2 liter per orang. Harganya Rp 14 ribu per liter. Ini tahap pertama. Mudah-mudahan kalau masih ada, bisa kami laksanakan di tempat lain," katanya.

Disebutkan, harga minyak goreng di pasaran Rp 18 ribu hingga Rp 19 per liter. Harapannya dengan ini masyakarat bisa terbantu, bisa meningkatkan daya beli.

Kepala Disperindag Provinsi Jawa Tengah, M Arif Sambodo, mengatakan, operasi pasar minyak goreng ini dalam rangka bisa mengendalikan harga minyak goreng. "Yang kita tahu, harganya sedang naik, bahkan sejak Mei 2021. Karena masalah mahalnya bahan baku," terang dia.

Pengusaha-pengusaha minyak goreng di Indonesia kebanyakan tidak memiliki perkebunan sawit. Jadi dia harus mendapatkan CPO dari perkebunan sawit. Yang notabene harga CPO internasional saat ini naik. Maka akhirnya minyak goreng harganya naik.

"Ini karena faktor penyebabnya bersifat eksternal, maka yang bisa lakukan begini. Bagaimana kita bisa menahan harga minyak goreng tidak bergerak liar. Jadi operasi pasar ini untuk itu," katanya.

Untuk Jateng, pihaknya mendapatkan kuota dari pemerintah untuk melakukan operasi pasar ini sebanyak 70 ribu liter. Itu sudah disebar ke-25 kabupaten/kota.

"Kami laksanakan ini sejak per 28 Desember 2021. Ini masih berlangsung sampai tanggal 6 Januari 2022. Ini gelombang pertama ya. Insya Allah mungkin akan ada lagi drop dari pusat. Karena realisasi jatah untuk operasi pasar ini belum 100 persen. Masih ada kemungkinan daerah-daerah yang sudah melaksanakan akan mendapat lagi," ujar dia. (had)

Tags :
Kategori :

Terkait