Ketegangan Dagang AS-China Mereda, Harga Emas Mulai Terjun Bebas!
Harga emas mulai terjun bebas-Michael Steinberg-pexels.com
Daniel Ghali, analis komoditas dari TD Securities, menjelaskan bahwa sinyal perdamaian dagang dan penguatan dolar adalah kombinasi yang cukup kuat untuk menekan harga emas secara signifikan.
“Meski belum terlihat aksi jual besar-besaran, tekanan jangka pendek cukup terasa. Namun, investor masih menunjukkan minat beli saat harga melemah, jadi potensi rebound tetap ada,” ujarnya.
BACA JUGA:Anti Rugi! 7 Aplikasi Canggih untuk Pantau Harga Emas Real-Time Sebelum Membeli
Dari Rekor Tertinggi ke Penurunan Tajam: Perjalanan Emas Tahun Ini
Sebelumnya, harga emas sempat mencatatkan rekor all-time high (ATH) di level US$ 3.500,05 per ons. Kenaikan tajam tersebut banyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, lonjakan permintaan dari bank sentral global, dan tingginya kekhawatiran inflasi.
Sepanjang tahun 2025, emas telah menguat lebih dari 25% sebelum akhirnya terkoreksi dalam beberapa hari terakhir. Artinya, meskipun harga emas mulai terjun bebas, performa tahunan masih terbilang solid.
Namun, jika tren pelemahan ini berlanjut, maka koreksi lebih dalam mungkin tak terelakkan.
Apakah Ini Awal dari Tren Penurunan Panjang?
Kondisi saat ini menunjukkan bahwa harga emas berada dalam tekanan dari dua arah sekaligus: faktor fundamental (redanya konflik dagang) dan faktor teknikal (kuatnya dolar).
Bila negosiasi AS-China terus menunjukkan kemajuan dan pasar saham global kembali bergairah, maka minat terhadap emas bisa terus menurun.
Namun, beberapa analis meyakini bahwa koreksi ini bersifat sementara. Ketidakpastian global belum sepenuhnya hilang, dan banyak investor masih menjadikan emas sebagai aset lindung jangka panjang.
BACA JUGA:Pantau Harga Emas Real Time Lewat HP: Cara Cepat Update Harga Emas Anti Ribet!
Dengan harga emas mulai terjun bebas akibat gejolak geopolitik yang mereda dan penguatan dolar AS, para investor harus mulai menata ulang strategi mereka.
Ini adalah momen penting untuk mengevaluasi kembali portofolio dan menyesuaikan diri terhadap perubahan tren pasar.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
