Sungai jadi Wisata Air
Destinasi wisata lokal kian berkembang di Kabupaten Pekalongan. Salah satunya di Kecamatan Karanganyar. Dengan mengandalkan potensi air, banyak bermunculan destinasi wisata air di kecamatan yang terkenal dengan sentra buah duriannya ini. Sebut saja ada wisata Al Kausar di Desa Kayugeritan, wisata Sipare di Desa Pedawang, arung jeram di Desa Lolong, dan wisata Ciblon di Desa Karanggondang.
Wisata Ciblon Karanggondang memang bukan destinasi wisata besar. Tetapi jika mencari sensasi segarnya mandi di sungai irigasi, di sana lah tempatnya. Bagi kalangan orang tua, mandi di sana juga bisa menjadi nostalgia masa kanak-kanak.
Wisata Ciblon ini terletak di Desa Karanggondang, Kecamatan Karanganyar. Tak begitu jauh dari pusat pemerintahan di Kota Kajen. Jika dari Tugu Duren Karanganyar, hanya 1 kilometer ke arah selatan. Ikuti saja sungai irigasi di pinggir jalan itu, dijamin tak akan menyasar. Wisata air ini berdampingan dengan Rumah Makan Tirta Alam.
Karanggondang boleh dibilang salah satu desa yang masih asri di Kabupaten Pekalongan. Di pinggir jalan masih berderet pohon-pohon besar. Dari jalan utama masih bisa memandang sawah, sungai irigasi, dan rumah-rumah yang masih khas pedesaan. Begitu pun jalan menuju Wisata Ciblon. Jika terus menyusuri jalan ke selatan maka akan sampai ke desa wisata Lolong.
Jika dari kota, wisata ini terletak di kanan jalan. Dari pintu masuk, pengunjung sudah bisa mendengar derasnya aliran sungai irigasi. Itu lah wahana utama wisata ini. Pengelola memanfaatkan irigasi desa yang tersambung dari Bendungan Padurekso. Pengelolanya ialah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Karanggondang. Mereka menjadikan wisata itu sebagai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dibuka sejak 2018.
Untuk menikmati wisata ciblon ini memang hanya membayar ongkos parkir kendaraan Rp 5 ribu untuk sepeda motor, dan Rp 10 ribu untuk mobil.
"Kalau mandi memang gratis. Sewa ban pelampung cukup bayar Rp 5 ribu," kata petugas penjaga pintu masuk, baru-baru ini.
Siang itu, pengunjung tak begitu ramai. Pengelola membatasi pengunjung karena pandemi. Namun riuh dan keseruan masih bisa dirasakan. Karena sepi, Slamet Eko (42), pengunjung asal Kota Pekalongan justru bisa lebih bisa menikmati suasana.
"Sebelumnya pernah ke sini pas ramai. Malah jadi susah berenangnya," ucapnya.
Lebar sungai irigasi Wisata Ciblon kira-kira hanya 3,5 meter. Sementara panjangnya, pengelola membatasi dari ujung pintu irigasi ke arah utara hanya 500 meter. Kanan-kirinya ditanami bunga dan pohon-pohon. Ada kios-kios makanan dan minuman. Pengunjung bisa menikmati hidangan dengan menggelar tikar di pinggir sungai.
Slamet Eko datang bersama istri dan kedua anaknya. Ia ikut masuk ke air karena tertarik. Ia tampak menikmati. Sesekali ia naik dan rebahan di atas ban pelampung. Ditarik kedua anaknya.
"Enak suasananya. Masih asri. Airnya juga jernih dan segar. Jadi ingat dulu waktu saya masih kanak-kanak mandi di sungai seperti ini," kata dia.
Istrinya lebih memilih duduk di atas tikar di pinggir sungai. Ia tertawa melihat aksi suami dan kedua anaknya. Menurutnya, Wisata Ciblon lebih asyik daripada di kolam renang. "Airnya alami tidak memakai kaporit. Bisa lihat pemandangan juga," tutur dia.
Wisata Ciblon resmi dibuka sejak 2018. Dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Karanggondang sebagai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sementara sungai irigasi itu, kata Ketua Seksi Pengembang Pokdarwis Karanggondang Rudi Prawiro, sudah ada sejak zaman Pemerintahan Kolonial Belanda.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
