Banner Iklan BYD
banner honda Juli 2026

Mencongak di Era Digital, Cara Sederhana Menguatkan Numerasi Anak

Mencongak di Era Digital, Cara Sederhana Menguatkan Numerasi Anak

Dewi Hardinasiana Prabawati, S.Pd, guru SDN Krapyak Lor 04, Kota Pekalongan & Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation memberikan pelajaran mencongak kepada siswanya.-dok. Tanoto-

Oleh: Dewi Hardinasiana Prabawati, S.Pd.

(Guru SDN Krapyak Lor 04, Kota Pekalongan & Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation)

PEKALONGAN - Di era modern ketika kalkulator instan dan aplikasi gawai dapat menyelesaikan soal Matematika dalam hitungan detik, kemampuan berhitung secara mandiri tetap menjadi fondasi penting bagi anak. 

Teknologi memang menawarkan kemudahan, tetapi siswa tetap wajib dilatih untuk berpikir kritis, memperkirakan, menghitung, dan memecahkan masalah dengan kapasitas otaknya sendiri.

Keterampilan esensial ini merupakan inti dari peningkatan kemampuan numerasi siswa SD. Numerasi jauh melampaui sekadar menghafal rumus Matematika; ini adalah aplikasi nyata dari angka, konsep, dan logika berhitung dalam dinamika kehidupan sehari-hari. 

Mulai dari menghitung uang kembalian belanja, menakar jumlah barang, membandingkan harga diskon, hingga memahami informasi berbasis statistik, semuanya membutuhkan pondasi numerasi yang kuat.

Bagi peserta didik kelas VI sekolah dasar, penguasaan numerasi menjadi gerbang krusial untuk menghadapi asesmen nasional sekaligus transisi mulus ke jenjang pendidikan menengah.

Tantangan Numerasi di Kelas VI: Antara Konsentrasi dan Kepercayaan Diri

Realitas ini tampak nyata dalam ruang kelas VI SDN Krapyak Lor 04, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. 

Berdasarkan asesmen diagnostik awal, profil kemampuan numerasi anak menunjukkan variasi yang cukup kontras. 

Sebagian siswa memerlukan waktu lebih panjang untuk menuntaskan operasi hitung dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, serta pembagian.

Kendala utama tidak selalu berakar pada kelemahan matematis semata, melainkan pada aspek konsentrasi dan rasa percaya diri siswa. Tantangan klasik yang sering ditemukan meliputi:

Kurangnya ketelitian: Kesalahan minor kerap muncul ketika siswa dihadapkan pada soal cerita berbobot multi-langkah.

Penurunan fokus: Kegagalan menyimak informasi lisan secara utuh sejak awal membuat siswa salah menginterpretasikan soal.

Kecemasan akademik: Rasa takut salah yang berlebihan membuat sebagian anak memilih bungkam atau mencontek jawaban teman, alih-alih menikmati proses belajar dari kesalahan.

Menghidupkan Kembali Tradisi Lewat Inovasi “MENCONGAK HEBAT”

Untuk menjawab tantangan tersebut, sebuah metode klasik yang dahulu sangat akurat mengasah ketajaman berpikir kini diadaptasi kembali secara kontekstual: mencongak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: