Urban Farming Pekalongan Mulai Beranjak Jadi Usaha
Produk- Produk dari hasil urban farming kelompok tani di Pekalongan.-FOTO-Dwi Fusti Hana Pertiwi
Radarpekalongan.co.id – Urban farming di Kota Pekalongan mulai berkembang dari sekadar kegiatan bercocok tanam menjadi aktivitas yang memiliki arah usaha. Setelah lima bulan mendapat pendampingan, sejumlah kelompok tani mulai menghasilkan produk olahan, memperkuat kelembagaan, hingga membuka akses pasar.
Konsultan pendamping urban farming Yayasan Kolaborasi Pangan Indonesia, Herdian Satrya, mengatakan pendampingan dilakukan terhadap 21 kelompok dengan fokus awal pada penerapan climate smart agriculture (CSA). Pendampingan diarahkan untuk memperbaiki metode budidaya, perawatan tanaman hingga pemanfaatan hasil panen.
"Awalnya memang kita hanya fokus pada penerapan climate smart agriculture. Kelompok merawat tanaman, panen, kemudian hasilnya bisa untuk konsumsi sendiri maupun dijual," kata Herdian.
Dalam perkembangannya, kelompok mulai memiliki berbagai gagasan yang kemudian dikembangkan menjadi produk. Di antaranya teh bunga telang Renjana, sampo natural Alera, bolu ubi ungu, stik sayuran, sambal lele Nusantara, pupuk organik cair dan pupuk Jakaba.
Menurutnya, lahirnya produk tersebut merupakan inisiatif kelompok. Pendamping berperan membantu mengembangkan ide, memperbaiki proses produksi serta mengarahkan agar produk memiliki nilai tambah.
Mayoritas produk telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Khusus Renjana serta produk dari kelompok Aisyah, Utari dan UFPI, telah memiliki PIRT dan sertifikasi halal. Sementara produk sampo Alera masih dalam proses pengurusan BPOM.
BACA JUGA:Lomba Batik Museum Pekalongan Libatkan Peserta Lintas Generasi
BACA JUGA:SMKN 1 Adiwerna Tegal Jadi Kampiun Final Regional AXIS Nation Cup 2026 Semarang
BACA JUGA:Ikuti Rakor Kearsipan, Plt Bupati Pekalongan Sukirman Tekankan Pentingnya Penguatan Arsiparis
Penguatan kelompok juga dilakukan melalui kompetisi yang tidak hanya menilai produk, tetapi mencakup kelembagaan, penataan kebun, keaktifan kelompok hingga inovasi. Untuk kategori kelompok tumbuh, KWT Kencana Jaya menjadi juara dengan konsep agrowisata, disusul KWT Aisyah dengan produk teh Renjana dan Nawasena dengan produk sampo Alera.
Sedangkan kategori kelompok dasar antara lain diraih kelompok Darkat Ijoroyo Pabean dengan produk pupuk Jakaba. Dua kelompok lainnya masih mengandalkan produk segar berupa cabai dan berbagai sayuran.
Akses pasar juga mulai terbuka. Produk teh Renjana masuk proses inkubasi melalui kolaborasi dengan Rumah BUMN BRI. Dari uji pasar yang dilakukan, kelompok juga mendapat permintaan dari Paguyuban Penyelenggara Jasa Boga Indonesia (PPJI) untuk kebutuhan katering dan SPPG, seperti selada, tomat dan timun.
BACA JUGA:41 Persen Bahan Baku MBG Didatangkan dari Luar, Pemkab Pekalongan Dorong Pemasok Lokal
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

