iklan banner Honda atas

Targetkan Capai Standar CPOB, PMI Batang Butuh Anggaran Kelengkapan Alat Rp4 Miliar

Targetkan Capai Standar CPOB, PMI Batang Butuh Anggaran Kelengkapan Alat Rp4 Miliar

MUSYAWARAH - PMI Batang menggelar Musyawarah Kerja PMI di Aula PMI Kabupaten Batang.-Radar Pekalongan/Novia Rochmawati-

BATANG, RADARPEKALONGAN.CO.ID – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Batang menargetkan peningkatan standar pelayanan Unit Donor Darah (UDD) dengan meraih sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Untuk memenuhi standar tersebut, PMI Batang membutuhkan anggaran sekitar Rp4 miliar guna melengkapi peralatan medis yang dipersyaratkan.

Ketua PMI Batang Achmad Taufiq mengatakan, langkah ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengolahan darah agar setara dengan standar produksi obat.

“Keinginan kami bersama Kepala UDD adalah agar UDD PMI Batang bisa mencapai standar CPOB. Di Jawa Tengah saat ini baru Surakarta dan Banyumas yang sudah memilikinya, dan kami sudah melakukan studi ke sana,” kata Taufiq saat Musyawarah Kerja PMI di Aula PMI Batang, Kabupaten Batang, Kamis (5/3/2026).

BACA JUGA:98 Persen Anak Stunting Peserta Program GENTING di Batang Alami Kenaikan Berat Badan

Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan investasi besar, terutama untuk penyediaan sarana dan prasarana sesuai standar BPOM. Di masa mendatang, darah di rumah sakit akan diperlakukan layaknya obat yang harus diproduksi dengan tingkat sterilitas tinggi.

“Kalau UDD kita sudah CPOB, bukan hanya Batang, Pekalongan, Kendal, atau Pemalang yang akan mengambil darah ke sini. Bisa saja sampai Tegal dan daerah lain juga memanfaatkan layanan kita,” jelasnya.

Kepala UDD PMI Batang Edi Samiaji menambahkan, target pemenuhan standar CPOB ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan dan BPOM pada tahun 2027. Saat ini pihaknya mulai berbenah dari sisi tata ruang pelayanan hingga kelengkapan dokumen administrasi.

Namun demikian, tantangan terbesar terletak pada pengadaan alat medis dengan standar khusus yang nilainya cukup besar.

“Setidaknya ada tiga sampai empat alat yang harus dipenuhi dan totalnya hampir mencapai Rp4 miliar. Dari sisi sumber daya manusia dan dokumen kemungkinan bisa kami penuhi, tetapi pengadaan alat ini yang menjadi tantangan utama,” terangnya.

Jika sertifikasi CPOB berhasil diraih, PMI Batang tidak hanya mampu menjamin keamanan dan kualitas darah, tetapi juga dapat memanfaatkan plasma darah yang selama ini belum digunakan secara optimal.

“Plasma darah sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk bahan baku obat tertentu. Saat ini plasma dari Surakarta dan Banyumas dikoordinasikan PMI pusat untuk dibawa ke Korea. Kami sendiri belum bisa melakukan itu,” ungkapnya.

Meski tengah fokus meningkatkan standar pelayanan medis, PMI Batang memastikan program kemanusiaan tetap berjalan. Salah satunya adalah program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

“Tahun 2025 dari rencana 30 rumah, yang terealisasi justru 33 rumah untuk program reguler. Kami juga memberikan bantuan non-reguler, misalnya rumah yang tertimpa pohon, dengan bantuan sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta,” ujar Edi.

Selain itu, PMI Batang juga terus terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, mulai dari pendampingan keluarga berisiko stunting hingga membantu warga kurang mampu mendapatkan akses pengobatan ke rumah sakit.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: