iklan banner Honda atas

98 Persen Anak Stunting Peserta Program GENTING di Batang Alami Kenaikan Berat Badan

98 Persen Anak Stunting Peserta Program GENTING di Batang Alami Kenaikan Berat Badan

Ketua TP PKK Batang Faelasufa Faiz saya menghadiri penutupan program pendampingan gizi Nestle di Jakarta-IST-

BATANG, RADAR PEKALONGAN – Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) di Kabupaten Batang menunjukkan hasil positif. Sebanyak 98 persen anak yang menjadi sasaran intervensi mengalami kenaikan berat badan selama program pendampingan berlangsung.

Ketua TP PKK Kabupaten Batang, Faelasufa, mengatakan program GENTING di Batang melibatkan 272 anak yang mendapat pendampingan serta pemantauan pertumbuhan secara rutin bersama kader posyandu.

“Pada program GENTING tahun kemarin, kami menjadi orang tua asuh bagi 272 anak di Kabupaten Batang. Kami mengukur berat badan mereka sebelum program dimulai, kemudian setiap bulan bekerja sama dengan posyandu untuk menarik data berat badan mereka,” katanya saat mengikuti penutupan Program Pendampingan Gizi 2025 yang digelar Nestlé Indonesia di Jakarta pada 4 Maret 2026.

Menurutnya, hasil pemantauan menunjukkan mayoritas anak mengalami peningkatan berat badan selama program berjalan.

“Alhamdulillah, 98 persen dari anak-anak tersebut berat badannya naik selama kita memberikan intervensi GENTING,” ujarnya.

Faelasufa menyebut jika program GENTING ini melibatkan banyak mitra. Nestlé menjadi salah satu mitra yang berkontribusi melalui edukasi gizi serta pendampingan keluarga.

Menurut Faelasufa, pendekatan yang dilakukan dalam program pendampingan gizi yang diinisiasi Nestlé tidak hanya berupa pemberian asupan makanan, tetapi juga edukasi kepada ibu-ibu di desa mengenai pola makan bergizi.

“Satu hal yang saya sangat suka dari program pendampingan gizinya Nestlé adalah mereka memberi tahu caranya kepada ibu-ibu di desa-desa di Batang. Jadi knowledge gap di desa itu nyata. Nestlé tidak hanya memberi makan, tetapi juga mengajarkan bahwa makanan bergizi tidak harus mahal,” katanya.

Marketing Manager PT Nestlé Indonesia, Ankur Mittal, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya tercermin dari capaian angka, tetapi dari perubahan perilaku yang berkelanjutan. 

“Kami percaya tantangan gizi anak tidak dapat diselesaikan melalui upaya jangka pendek. Program ini dirancang dengan prinsip intervensi berbasis bukti, monitoring rutin, dan kemitraan lintas sektor. Bagi kami, dampak terpenting tidak hanya terlihat dari perbaikan indikator pertumbuhan, tetapi juga dari perubahan perilaku berkelanjutan yang terjadi di tingkat keluarga dan komunitas. Melalui kombinasi pemenuhan energi dan protein yang mudah diakses, edukasi keluarga, serta pemberdayaan kader, kami melihat perubahan positif pada pertumbuhan anak sekaligus praktik gizi keluarga di tingkat rumah tangga," ujarnya.

Program Pendampingan Gizi 2025 berfokus pada upaya pencegahan melalui deteksi dini anak dengan berat badan stagnan atau sulit naik. Intervensi dilakukan dengan mengombinasikan pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi esensial berupa pemberian satu butir telur dan satu gelas susu setiap hari selama enam bulan, disertai edukasi keluarga dan pemantauan rutin pertumbuhan anak. Pendekatan pendampingan keluarga ini memungkinkan intervensi dilakukan secara berkelanjutan, adaptif, dan sesuai kebutuhan di lapangan.

Market Nutritionist Lead PT Nestlé Indonesia, Jennifer Handaja, menjelaskan bahwa sebagian keluarga menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi dan variasi konsumsi anak secara optimal. “Temuan baseline menunjukkan adanya kesenjangan pada pemenuhan energi dan zat gizi mikro penting seperti zat besi dan kalsium. Karena itu, intervensi difokuskan pada solusi yang realistis dan mudah diterapkan sehari-hari. Melalui edukasi, pendampingan kader, dan monitoring rutin, keluarga menjadi lebih percaya diri dalam memenuhi kebutuhan gizi anak serta menerapkan praktik makan yang lebih baik di rumah.”

Program Pendampingan Gizi 2025 sendiri berlangsung selama enam bulan, sejak Juli 2025 hingga Januari 2026. Program ini menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting melalui pendampingan 147 kader serta edukasi kepada 520 ibu hamil dan menyusui di tiga daerah, yakni Kabupaten Karawang, Kabupaten Batang, dan Kabupaten Pasuruan.

Berdasarkan pemantauan bersama mitra akademisi dari IPB University, program ini juga menunjukkan penurunan prevalensi underweight dan severe underweight sebesar 22,5 persen serta perbaikan indikator pertumbuhan anak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait