Pangsa Pasar Batik Rifaiyah Tetap Tinggi, Dipesan hingga Belanda
TUNJUKKAN - Siti Alqomah saat menunjukkan batik Rifa'iyah yang ia produksi menggunakan pewarna alam. -Novia Rochmawati-
Ia berhara p inovasi batik pewarna alam ini bisa dilirik oleh muda-mudi Batang untuk melestarikan batik Rifa'iyah. Hal ini lantaran pangsa pasar batik pewarna alam yang masih cukup potensial. Meski warnanya tak secerah batik pewarna tekstil, batik pewarna alami ini juga punya penggemarnya tersendiri.
Selain itu, pewarna alam ini juga mudah ditemukan di sekitar lingkungan tempat tinggal kita. Seperti bisa menggunakan kayu mahoni, menggunakan kayu secang serta tanaman lainnya.
Hanya saja, untuk membuat batik pewarna alam, membutuhkan proses yang lebih lama. Hal ini agar warna yang dihasilkan lebih kuat dan sesuai dengan yang dikehendaki. Meski begitu hasil dan harga yang didapat pun sesuai dengan proses yang telah dijalankan.
"Kalau warna alam bisa dari kayu dan daun-daunan mbak. kalau biru dari daun nila. kalau merah dari buah kesumba ,akar pohon pace, secang dan lainnya. Bisa juga menggunakan kopi ataupun teh dan bahan-bahan alami lainnya," imbuhnya.
Siti menambahkan, membuat batik menggunakan pewarna alam ini menurutnya bisa menjadi ide wirausaha baru untuk kaum milenial. Terlebih karena membatik juga bisa dilakukan ketika senggang, di sela-sela aktivitas sehari-hari. Meski begitu, usaha batik pewarna alam ini juga bisa ditelateni sebagai usaha pokok skala besar.
"Kalau seperti saya ini, membatik menjadi pekerjaan sampingan sembari mengurus keluarga. Meski begitu hasil yang didapatkan lumayan. Dan menurut saya keterampilan wajib dimiliki anak muda, sehingga setelah lulus sekolah nanti bisa langsung terjun berwirausaha," pungkasnya. (nov)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



