Tujuh Desa di Kota Santri Tergenang Rob

Tujuh Desa di Kota Santri Tergenang Rob

WONOKERTO - Sebanyak tujuh desa di Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, tergenang banjir rob, yakni Desa Wonokerto Kulon, Wonokerto Wetan, Tratebang, Pecakaran, Pesanggrahan, Api api, dan Desa Semut. Ketinggian banjir rob bervariasi antara 20 cm hingga 50 cm.

BERIKAN BANTUAN - Bupati Pekalongan Asip Kholbihi memberikan bantuan untuk korban rob di Kecamatan Wonokerto. Bantuan secara simbolis diterima Sekcam Wonokerto, Ali Akbar, kemarin. Hadi Waluyo.

Bencana banjir rob di pesisir Kabupaten Pekalongan terutama di Kecamatan Wonokerto ini diperkirakan akan terjadi selama bulan April hingga Juni mendatang, yang merupakan siklus tahunan rob. Progres pembangunan tanggul penahan rob sendiri baru akan selesai pada akhir tahun 2019 ini. Saat ini progress pembangunan tanggul rob masih 60 persen. Untuk itu, masih ada dua sungai di wilayah pesisir yang belum ditutup sebagai tempat masuknya air rob ke pemukiman warga. Oleh karena itu, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi meminta masyarakat untuk bersabar menghadapi kemungkinan rob yang akan terjadi selama siklus rob di bulan April-Juni mendatang.

"Tiga bulan ini mohon bersabar karena mungkin akan ada genangan rob lagi, karena ini sedang proses upaya penanggulangannya. Mudah-mudahan nanti jika sudah selesai bisa kita tanggulangi banjir rob ini," ujar Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, saat meninjau rob di Kecamatan Wonokerto, Kamis (25/4).

Dikatakan, Pemerintah Kabupaten Pekalongan mendukung penuh program tanggul penanggulangan banjir dan rob dari dana APBN dengan pola 'multiyears'. Pembangunan tanggul ini, kata dia, akan selesai pada Desember 2019. Menurutnya, banjir rob masih terjadi karena Sungai Mrican dan Tratebang belum ditutup, dan rumah pompa masih dalam proses pembangunan.

"Mengapa masih ada rob, karena Sungai Mrican dan Sungai Tratebang belum ditutup. Mengapa belum ditutup, karena masih ada kapal, karena belum disiapkan tambatannya," terang Bupati.

Diterangkan, di Sungai Tratebang terdapat 100 unit kapal, dan di Sungai Mrican ada 160 kapal. Menurutnya, ratusan kapal itu akan dipindah ke tempat tambatan yang baru. Setelah itu, dua sungai tersebut akan ditutup.
"Jika kapal sudah dipindah nanti sungai ditutup kemudian kita usulkan pula untuk ada parapet maka saya meyakini rob ini sudah akan berkurang. Ini juga ada rob tapi secara faktual kondisinya sudah berbeda dengan adanya tanggul. Nanti ketika tanggul sudah selesai, 'long storage' sudah selesai, sungai sudah tertutup, pompa kita pasang, maka banjir rob semoga bisa teratasi," katanya.

Menurutnya, pompa tersebut untuk mengantisipasi jika nanti ada genangan air hujan, sehingga air hujan tersebut akan dipompa ke sungai.
"Ini sistem polder yang diterapkan dalam penanggulangan banjir rob di Kabupaten Pekalongan. Ini akan efektif sepanjang ada kerja sama yang baik. Alhamdulillah masyarakat sudah 'care', sudah menunggu program ini, tinggal persoalan kapal," ujar Asip.

PPK Sungai Pantai 2 BBWS Pemali Juana, Herdiana Kusumaningrum, mengatakan, untuk penanganan banjir dan rob di Kabupaten Pekalongan, Pemerintah Pusat membangun tanggul sepanjang 6 km hingga 7 km, dan pembuatan rumah pompa. "Ada beberapa sungai yang rob masuk dari situ seperti Sungai Mrican dan Tratebang. Rencananya nanti akan kita tutup dan menggunakan rumah pompa karena selain air rob juga memperhitungkan air hujan. Ini proyek masih berjalan, kami mohon bantuannya dan juga doa restunya dari masyarakat semua, agar proyek ini bisa selesai, berjalan dengan lancar, dan membawa manfaat banyak bagi masyarakat," katanya.

Ditambahkan, progres pembangunan tanggul saat ini sudah 60 persen, dan untuk rumah pompa sudah pengadaan. "Jika rumah pompa sudah terpasang, kita pasang pompanya. Tapi sementara itu sambil menunggu pompa terpasang kita siapkan juga untuk pompa-pompa portable untuk mengatasi masalah genangan. Harapan kami akhir tahun ini selesai," ujarnya.

Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan, Budi Raharjo, menambahkan, pemda melalui BPBD memberikan bantuan logistik seperti bahan makanan, air mineral, dan lauk pauk. Menurutnya, tujuh desa tergenang rob, yakni Desa Wonokerto Wetan, Wonokerto Kulon, Tratebang, Pecakaran, Api api, Pesanggrahan, dan Desa Semut. Ketinggian banjir rob, kata dia, antara 20 cm hingga 50 cm. Rob terparah, lanjut dia, di Desa Wonokerto Kulon, Wonokerto Wetan, dan Desa Tratebang. Selain menggenangi pemukiman penduduk, ribuan rumah di pesisir ini juga kemasukan air rob.

Seperti diberitakan, sejak tiga hari terakhir, banjir rob menggenangi sebagian besar desa di Kecamatan Wonokerto. Ketinggian banjir rob antara 15 centimeter hingga 50 centimeter. Tokoh masyarakat Wonokerto, Sumar Rosul, mengatakan, wilayah yang tergenang rob meliputi area ibukota kecamatan, Tratebang, Wonokerto Kulon, Wonokerto Wetan, Api api, Pecakaran, Sijambe, Pesanggrahan, sebagian Bebel, sebagian Rowoyoso, dan sebagian Semut. (ap5)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: