Misteri Penyebab Kematian Rika Indriyeni Terungkap, Mati Lemas Akibat Dibekap dan Pendarahan di Otak

Misteri Penyebab Kematian Rika Indriyeni Terungkap, Mati Lemas Akibat Dibekap dan Pendarahan di Otak

Ratusan warga ikut mengiringi pemakanan Rika Indriyeni.-Hadi Waluyo-

KAJEN,RADARPEKALONGAN - Misteri penyebab kematian Rika Indriyeni (20), warga Desa Bulakpelem, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, yang mayatnya ditemukan berseragam pramuka tenggelam di area tambak di Pantai Blendung, Ulujami, Kabupaten Pemalang, terungkap.

Dari hasil autopsi, Rika meninggal dunia karena kekerasan benda tumpul pada kepala yang mengakibatkan pendarahan otak. Korban pun dibekap hingga mati lemas. 

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Stefanus Satake Bayu, Kamis 31 Agustus 2023, menerangkan, hasil autopsi korban Rika meninggal dunia karena kekerasan tumpul pada kepala sehingga mengakibatkan pendarahan otak dan bekap yang mengakibatkan mati lemas.

"Untuk kasusnya masih dalam pendalaman untuk mengungkap pelakunya," ujar dia.

Disebutkan, hingga saat ini sudah ada 11 saksi yang diperiksa. Polda Jateng, kata dia, bekap untuk kasus tersangka, termasuk IT-nya.

Baca juga:Korban Pembunuhan Rika Indriyani Dikenal Humoris dan Sayang Keluarga

Sebelumnya diberitakan, Rika Indriyeni (20), warga Desa Bulakpelem, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, diduga kuat korban pembunuhan. Pasalnya, jasad korban dibuang ke sungai di area tambak di Pantai Blendung, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, dengan pemberat dari sarung dan batu agar tenggelam ke dasar sungai.

Jasad korban ditemukan dengan pakaian seragam Pramuka tenggelam di area tambak di Pantai Blendung pada Selasa, 22 Agustus 2923. Pihak keluarga hingga saat ini berharap agar kasus itu bisa diungkap. Pelaku bisa dihukum seadil-adilnya. 

Kakak korban, Rusmiati, ditemui di rumah duka, Rabu (23/8/2023) siang, mengatakan, ia mendapatkan informasi adiknya itu belum pulang dari ayahnya pada Senin (21/8/2023) siang, sekitar pukul 12.00 WIB. Dirinya memang tidak serumah dengan adiknya tersebut. Selanjutnya, pihak keluarga lapor polisi pada Senin malam, sekitar pukul 22.00 WIB. 

Dikatakan, korban sempat pamit dengan teman kerjanya mau jalan-jalan. Menurutnya, usai pulang kerja pada Minggu malam itu, sekitar pukul 21.00 WIB, adiknya tidak pulang ke rumah dulu. Adiknya sudah membawa baju ganti dari rumah. 

"Dari kerjaan salin, langsung pergi. Makanya di rumah kan khawatir kok ndak pulang-pulang kerja, biasanya jam setengah sepuluh sudah pulang. Adik saya naik motor. Adik berangkat kerja Minggu pagi, jam sembilan, pulang aturannya jam sembilan malam. Ndak pamit mau kemana. Ndak nelpon saya, ndak nelpon kakaknya yang di Sumub," tutur dia.

Ia mengaku saat mayat itu ditemukan pertama kali ia sempat melihat jika wajahnya mirip dengan adiknya. Namun ia tidak percaya lantaran adiknya sudah tidak sekolah. Sedangkan mayat itu mengenakan pakaian seragam pramuka. 

"Polisine telpon terus suruh ke Rumah Sakit Pemalang akhirnya kami ke sana habis Mahgrib. Dari ciri-ciri bajunya, celananya, kukunya, kakinya, saya tahu karena dia adik saya. Dari wajahnya saya sudah ndak ngenali tapi saya kenal kakinya, tangannya, jari-jarinya itu saya tahu itu adik saya tapi saya tidak mau mengakui malam itu. Giliran ke polres, barang-barangnya itu semua milik adik saya, baru saya percaya benar adik saya," katanya. 

Pihak keluarga korban berharap polisi bisa segera ungkap pembunuh adiknya tersebut. Pihak keluarga ingin keadilan ditegakkan. Pelaku dihukum berat lantaran telah berbuat keji terhadap adiknya tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: