Tanaman Cengkih Rusak Akibat Serangan Virus

Tanaman Cengkih Rusak Akibat Serangan Virus

Penyebab anjloknya produktivitas tanaman cengkih di Kabupaten Pekalongan akhirnya terkuak. Berdasarkan penelitian tim ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB), tanaman cengkih di Kabupaten Pekalongan terserang virus secara masif. Hal ini diakibatkan turunnya daya tahan tanaman cengkih, karena tanaman jenuh terhadap pupuk kimiawi.

MOBIL KLINIK - Bupati Pekalongan Asip Kholbihi melihat fasilitas di mobil klinik pertanian IPB. Hadi Waluyo.

"Menurut para peneliti, virus menyerang tanaman cengkih karena daya tahan tanaman menurun. Hal tersebut diakibatkan karena tanaman jenuh terhadap pupuk kimia," terang Bupati Pekalongan Asip Kholbihi saat meresmikan Musala Al Mustaghitsin di Dukuh Wiyoro, Desa Garungwiyoro, Kecamatan Kandangserang.

Seperti diketahui, sejak tahun 2008 tanaman cengkih di wilayah pegunungan di Kabupaten Pekalongan seperti di Kecamatan Paninggaran banyak yang mati. Jika pun tanaman hidup, produktivitasnya sangat rendah. Oleh karena itu, Pemkab Pekalongan menjalin kerjasama dengan IPB untuk mengetahui penyebab rusaknya tanaman cengkih tersebut, sehingga bisa dicarikan solusinya agar petani cengkih kembali bergairah.

Bupati menerangkan, solusi mengembalikan daya tahan tanaman cengkih dengan menghentikan pemupukan menggunakan kimia. "Saran dari peneliti, para petani harus menggunakan pupuk kandang agar daya tahan tanaman terhadap virus kembali seperti semula," katanya.

Tidak berhenti dengan penelitian tentang pupuk, pihaknya menuturkan akan terus melakukan penelitian untuk meningkatkan pendapatan petani cengkih. "Kami akan terus melakukan penelitian untuk meningkatkan produktivitas tanaman cengkih. Jika kondisi tanaman kembali seperti semula, saya yakin petani cengkih di Kabupaten Pekalongan akan sejahtera," tuturnya.

Seperti diberitakan Radar Pekalongan (4/3), produktivitas tanaman cengkih di Kecamatan Paninggaran mengalami penurunan yang drastis sejak tahun 2008 hingga saat ini. Perputaran uang miliaran rupiah saat panen raya cengkih pun hilang. Oleh karena itu, masyarakat Paninggaran saat ini gencar mengembangkan budidaya manggis, teh, dan hijauan pakan ternak untuk mendukung peternakan sapi, sebagai sumber penghasilan di saat cengkih tidak lagi bisa diandalkan.

Luas lahan cengkih di Kecamatan Paninggaran antara 900 hektare hingga 1.000 hektare. Dari total luasan lahan cengkih tersebut, 70 persen di antaranya tanaman cengkih mengalami kerusakan. Sehingga, luas lahan tanaman cengkih yang masih produktif hanya sekitar 300 hektare. Itu pun produktivitasnya mengalami penurunan drastis. Akibatnya, petani cengkih di wilayah pegunungan ini terpuruk.

Kepala Desa Paninggaran, Rusdiono, mengungkapkan, Kecamatan Paninggaran sebelum era tahun 2000-an merupakan sentra penghasil cengkih di Kabupaten Pekalongan. Kala itu, kata dia, setiap kali musim panen raya perputaran uang mencapai miliaran rupiah. "Sejak tahun 2008, banyak tanaman cengkih yang rusak. Dari luasan lahan tanaman cengkih 1.000 hektare, kerusakannya mencapai 60 persen hingga 70 persen, atau hampir 700 haktare tanaman cengkih rusak," terang dia.

Padahal, lanjut dia, cengkih memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Harga cengkih basah paling murah mencapai Rp 20 ribu perkilo, dan bisa menembus angka Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu perkilonya. Sementara, lanjut dia, harga cengkih kering bisa menembus Rp 100 ribu perkilo. (ap5)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: