1.096 Balita Risiko Tinggi Stunting di Kota Pekalongan jadi Sasaran Saber AKI, AKB, dan Stunting

1.096 Balita Risiko Tinggi Stunting di Kota Pekalongan jadi Sasaran Saber AKI, AKB, dan Stunting

Sebanyak 1.906 balita risiko tinggi stunting di Kota Pekalongan jadi sasaran Saber AKI, AKB, dan penurunan stunting di awal tahun 2024.-Dok/Dinkominfo-

PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.DISWAY.ID - Sebanyak 1.096 balita dengan risiko tinggi stunting di Kota Pekalongan menjadi sasaran kegiatan Sapu Bersih (Saber) Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan stunting oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

Kegiatan Saber AKI, AKB, dan stunting ini mulai digencarkan Dinkes Kota Pekalongan mulai awal tahun 2024 ini.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Pekalongan, dr Indah Kurniawati mengungkapkan bahwa kegiatan ini untuk melakukan deteksi dini risiko tinggi pada ibu, bayi balita, dan kasus stunting.

Kegiatan ini dilakukan oleh bidan, dokter spesialis kandungan, dokter spesialis anak, juga melibatkan kader. 

BACA JUGA:Duh, Ada Potensi Kenaikan Angka Stunting di Jateng

BACA JUGA:Tahun 2024 Pemkab Batang Targetkan Angka Stunting di Bawah 10 Persen

"Awal tahun 2024 ini kami melaksanakan Saber AKI, AKB, dan Stunting di 14 puskesmas mulai tanggal 24 Januari sampai dengan 7 Februari 2024. Jadi satu lokasi dilaksanakan 2 hari, pertama harinya 50 balita," terang dr IndahIndah saat ditemui di Puskesmas Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, Rabu, 31 Januari 2024.

Misalnya pada Rabu, 31 Januari 2024 dan Kamis, 1 Februari 2024 dilaksanakan di Puskesmas Bendan dan Puskesmas Sokorejo.

Dokter Indah menyebutkan bahwa pada Saber AKI, AKB, dan stunting di Kota Pekalongan ini dilaksanakan melalui kegiatan skrining kepada sasaran balita pendek dan sangat pendek yang berusia 0 sampai 5 tahun, dengan sasaran 1.096 balita di seluruh wilayah Puskesmas di Kota Pekalongan.

BACA JUGA:Lulusan Akbid Diminta Turut Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi

BACA JUGA:Angka Kematian Ibu dan Bayi di Kabupaten Pekalongan Masih Tinggi

"Jadi, setiap puskesmas menangani balita risiko tinggi di wilayah binaannya. Kami libatkan tiga dokter spesialis anak setiap harinya," imbuh dr Indah Kurniawati. (way)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: